Jumat, 28 Oktober 2016

ADA SURGA DI PINTU TETANGGA



Bismillahirrahmanirrahim...
Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya “Ayah, kenapa kita harus sholat?”, dengan bijak Sang ayah  menjawab “Agar Allah sayang kita, dan agar kita masuk surga”.
“Apa di surga itu enak ayah?” pertanyaan polos ini membuat ayah si anak kembali tersenyum “tidak ada satupun manusia beriman di dunia ini yang tidak ingin masuk surga nak. Karena di surga itu sangat enak”. Percakapanpun terus berlanjut antara keluguan si anak dan kebijaksanaan Sang Ayah menjawab pertanyaan.
Yess. Semua orang beriman pasti ingin ke surga, dan sangat tidak mau ke neraka. Banyak jalan menuju surga. Bahkan jalan-jalan tersebut ibarat jembatan, yang jika benar langkahnya, maka surga tempat berpijak kemudian. Namun jika terpeleset di jalan yang sama maka neraka tempat terjerembabnya. Naudzubillahimindzalik
Kali ini kami share salah satu jalan yang kalau di titi dengan benar akan mengantar ke surga. Tidak jauh-jauh, CARILAH SURGA DI PINTU TETANGGA.
1.       Tidak kenyang disaat tetangga kelaparan


Hasil gambar untuk orang lapar  VS  Hasil gambar untuk makan berlebih

Rasulullh bersabda “tidak termasuk mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan”. Hadist shahih diriwayatkan At Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir(12/154).
Hal ini terlihat sederhana, kita makan karena kerja, tetangga lapar karena tidak kerja, urusan masing-masing. Tapi ternyata tidak semudah itu. Konsekwensi yang harus kita tanggung jika kita cuek terhadap perut tetangga adalah dicoretnya kita dari barisan orang-orang beriman. Jika sudah di coret, mau membawa predikat apa ketika kelak kita kembali pada Allah?

2.       Memperbanyak kuah untuk dibagi pada tetangga

Hasil gambar untuk berbagi makanan dengan tetangga  
Rasulullah bersabda “wahai Abu Dzar, jika kamu memasak kuah, perbanyaklah airnya dan sisihkan untuk tetangga-tetanggamu” Hadis shahih diriwayatkan oleh muslim (2625).
Jika sampai rasul memerintahkan membagi kuah pada tetangga, ini menunjukkan betapa pentingnya berbagi dengan tetangga. Kalau kuah saja disuruh memberi, apalagi isi kuah, apalagi nasi, apalagi makanan yang lebih baik dari itu.

3.       Tidak dzolim pada tetangga

Hasil gambar untuk mengganggu tetangga Hasil gambar untuk mengganggu tetangga dengan musik keras
Rasululloh bersabda “Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak tenang dari gangguannya”  Hadist shahih diriwayatkan oleh muslim dalam Bab Iman (73).
Tidak main-main, ancamannya adalah di tolak dari surga. Gangguan disini berupa banyak hal contoh : gangguan ketenangan istirahat karena suara musik menggelagar bak sound orkes, gangguan ghibah dan fitnah yang di sebar, gangguan menggunakan lahan tetangga untuk parkir tanpa izin dll.
Jadi hati-hati, pintu surga sangat mungkin tertutup hanya karena gangguan kepada tetangga yang tidak kita sadari.

4.       Memberi kepada yang paling dekat rumahnya

Aisyah pernah bertanya pada rasululloh “wahai rasululloh, aku memiliki dua orang tetangga, kepada siapa aku harus memberi ? Beliau menjawab “Kepada tetangga yang paling dekat pintunya denganmu” hadist shahih di riwayatkan Al Bukhari (5614).
Kalau punya makan lebih dan mau berbagi, jangan ke tetangga yang jauh dulu walau dia baik. Tapi dahulukan tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita.

Beginilah rasul mengajarkan tentang bagaimana bersikap kepada tetangga.

Semoga bermanfaat dan berkah. 

Senin, 19 Mei 2014

Aku Wanita Karir, Anakku Sholihah




Assalamu'alaikum sahabat
Lama tidak nge pos tulisan. berasa bertahun-tahun. Tidak ada alasan yang diizinkan untuk mentolerir ke-MALAS-an menulis, hihihi.... akhirnya, ditengah rapat kwartal 1, tempat berkumpulnya para branch manajer, manager, dan direktur yayasan nurul hayat, hati memaksa tangan untuk menuangkan dakwah dalam tulisan.
Tulisan-tulisan yang lalu merupakan copas dari tulisan saya yang di muat di majalah hikmah nurul hayat. sejak januari 2014, saya putuskan untuk tidak menulis lagi di majalah. ketidak mampuan saya dalam memenuhi deadline tanggal dari redaksi, mangakibatkan redaksi majalah kerap terengah-engah ngejar deadline. sementara majalah nurul hayat ditunggu lebih dari 70.000 donatur. kasian mereka hmmm.

Al hasil, kali ini saya mencoret secukupnya.  tentang parenting. tanpa bekal titel sarjana psikologi anak, saya menulis berdasarkan pengalaman. jadi, mohon maaf kalau ada yang kurang sependapat dengan saya ya. :)


Ditengah kita sekarang ini, sudah populer tentang para ibu yang bekerja. saya, termasuk dalam kelompok yang mendukung ibu berkarir dengan batasan-batasan.
saya tidak sedang membahas ketentuan-ketentuan tersebut. tapi kali ini saya hendak fokus pada konsekwensi yang harus kita lakukan ditengah kesibukan sebagai seorang ibu karir. 
Saya berangkat kerja pukul 6.30 dan pulang ke rumah pukul 19.30. belum lagi jika harus ada meeting dengan para direktur yang lain untuk membahas tentang kemanfaatan umat. Dan juga ketika  saya harus keliling ke cabang-cabang nurul hayat yang tersebar di wilayah-wilayah indonesai. Sebagian besar orang bertanya “kapan waktu untuk anak, apa tidak kasihan” dan sebagainya.Saya tidak heran jika ada orang di sekitar mengecap saya gila jabatan, gila harta, dan lain-lain. Karena yang mereka lihat adalah jam kerja saya yang seolah diburu nafsu.
Sekedar diketahui, tempat kerja saya adalah sebuah lembaga social dan dakwah. Berbagi kemanfaatan dengan puluhan ribu yatim dan dhuafa. Dan karena itu, saya enggan untuk berpindah tempat kerja. Walaupun andai kerja di tempat lain, asal halal, dan niat ihlas karena Allah SWT, tetep berkah. insyaAllah.
Jika jam kerja saya menggila seperti itu, lalu bagaimana dengan anak saya? Barangkali itu yang ada di pikiran sahabat semua. Maka izinkan saya crita sedikit kisah berkenaan dengan itu.
Beberapa waktu lalu, dua orang pendidik (ustazah) di sekolah tempat anak saya menuntut ilmu, melakukan visit ke rumah. Tujuannya menjalin komukasi dengan orang tua tentunya. Beliau berdua tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ketika saya crita jam kerja saya. Salah satu diantara beliau berujar “kok bisa ya bunda, mbak icha (panggilan anak saya) jadi seperti sekarang dengan kondisi bundanya yang sibuk seperti njenengan”.
Menurut info beliau berdua, anak saya menjadi asisten ustazahnya dalam banyak hal. Misal dalam mengkondisikan teman, menyampaikan pesan dari ustazah satu ke yang lain, mengawali tes-tes hafalan Al Qur’an dan hadits dan lain-lain. Icha dipilih karena kesantunan akhlaknya, lembut tutur bahasanya, dan cerdas akalnya. Demikian penjelasan sang ustazah. Tentu syukur yang tak terkira atas hadiah yang Allah SWT berikan kepada saya.
Sahabat, para bunda dan orang tua. Tidak apa ketika kita tengah menjalani takdir berkarir. Ini tips untuk bisa diikhtiarkan dalam membentuk anak yang solih dan solihah :
1.      Pasang niat baik-baik. Perhatikan dan pastikan bahwa niatnya murni karena Allah ta’ala. Jika sudah niat karena Allah, maka insyaAllah setiap langkah kita akan dilimpahi keberkahan yang tentu berdampak sangat pada siapa saja yang makan dari rizki kita.
2.      Pasrahkan penjagaan buah hati pada Allah SWT. Ketika berangkat kerja, kuatkan hati dengan mendoa agar Allah menjaga buah hati kita. Karena Allah lah sebaik-baik penjaga. Allah Maha lembut, maka yakin bahwa anak kita akan baik-baik saja dalam penjagaanNya
3.      Pilih tempat kerja yang halal dan aman. Pastikan tempat kerja kita bergerak di bidang bisnis yang halal. Tidak riba, tidak berhubungan dengan khamr, dan lain-lain. Juga tempat kerja yang aman bagi para wanita muslimah. Sebuah tempat kerja yang mengizinkan kita tetap mengenakan jilbab yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah.
4.      Selalu luangkan waktu untuk mendengarkan cerita, berbagi kisah, memeluk dan mengajak jalan-jalan. Perlu diperhatikan bahwa jalan-jalan di sini bukan shopping di mall. Karena itu ada kecenderungan mendidik jiwa konsumtif. Apalagi kalau bahasanya “hanya lihat-lihat”. Jika ada barang yang mereka inginkan, maka mereka akan menyimpan dalam hati dan meledakkan di kemudian hari. Ajak lah jalan-jalan ke lokasi terbuka nuansa alam, bahkan di lokasi sekitar rumah sendiri juga menarik.
5.      Dalam setiap usai sholat, jangan lupa selipkan doa untuk buah hati kita selalu. Ikhtiar dhohir sudah kita lakukan dengan memasukkan ke sekolah nuansa islami, memaksimalkan kualitas bersama anak-anak, dan lainnya. Tingal menguati di ikhtiar batin. Ibarat kaki, ikhtiar dhohir dan batin adalah kaki kanan dan kiri. insyaAllah lebih maksimal kalau melangkah dengan keduanya. Aamiin..
Wallahu’alam bishshowab.

Kamis, 01 Agustus 2013

Iqro' Agustus 2013 : Berbekal Khusnudzon


                Adalah lazim bagi kita mendengar keajaiban-keajaiban sedekah. Para ulama dan orang-orang sholih menyampaikan betapa Allah SWT akan membalas sedekah dengan sebaik-baik balasan. Satu di antara sekian ayat dalam Al Qur’an  yang menjelaskan keutamaan sedekah adalah ayat ke 261 di surat Al Baqoroh yang artinya“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
                Ketika dalam keadaan lapang, maka akan menjadi hal yang ‘biasa’ manakala sebagian rizki tersalur untuk sedekah. Lain halnya jika kesempitan melanda dan sedekah makin menambah. Belum lagi dihadapkan pada keadaan seolah sedekah tak “berbuah”. Seperti yang dialami sepasang suami istri berikut. Bagaimana mereka merasa ‘baik-baik’ saja padahal sedekah yang menjadi semangat hidup mereka kala itu, seolah tak mampu mengubah takdir hidup mereka yang tetap meradang dalam kesempitan bertahun-tahun.
                Adalah bu ami, ketika itu dia berprofesi sebagai buruh tani. Suaminya adalah kuli di sebuah home industry. Kalaupun penghasilan mereka dikumpulkan, dalam sebulan masih jauh di bawah karyawan industry atau pabrikan. Pendapatan itupun hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar beberapa kewajiban.
                Sementara itu, untuk biaya sekolah kedua anak yang tengah duduk di bangku SMP dan SMU, mereka mengandalkan bantuan beasiswa untuk anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Bersyukur kedua suami istri ini dikaruniai anak-anak yang cerdas. Dan secara akademik selalu diatas rata-rata.
Sekilas, kesederhanaan pasangan suami istri ini tak beda dengan kesederhanaan keluarga-keluarga lainnya. Namun, ketika mengenal lebih dalam, kita akan dibuat terperangah oleh gaya hidup mereka yang tidak biasa.
Di lingkungan sekitarnya, bu ami di kenal sebagai wanita yang royal. Ia kerap membagi-bagi makanan kepada tetangga dalam jumlah yang tidak sedikit. Makanan yang di bagi pun tidak tanggung-tanggung dalam hal kualitas, kuantitas dan intensitas. Dan bu ami memang memilih tetangga yang tidak mampu sebagai prioritas pembagian makanan.
Sejenak kita akan dibuat heran mengetahui hal itu, darimana beliau dapat uang untuk berbagi makanan, sedangkan penghasilan telah habis untuk makan sederhana sehari-hari. Tapi keheranan itu terjawab manakala kita melihat bu ami setiap sore keliling berjualan kerupuk hasil gorengannya sendiri. Sebungkus di jual 500 rupiah. Kepingan rupiah  itu ia kumpulkan demi keinginan untuk bisa berbagi dengan tetangga yang kurang mampu.
Dalam beberapa kesempatan, tak jarang bu ami dengan sengaja masak menu special hanya untuk menyenangkan tetangganya yang tampak kekurangan dalam hal kebutuhan pangan. Kontan hal ini membuat para tetangga menjadi sangat bahagia manakala menerimanya.
Di balik senyum bahagia para tetangga penerima sedekah dari bu ami, ada pula komentar yang menyesakkan kalau di turuti. Bagaimana tidak, entah muncul ide dari mana, beberapa tetangga menyusun opini bahwa bu ami hanya cari muka dan pura-pura baik.  Tak jarang pula pendapat bahwa bu ami sedang menyombongkan diri.
Manakala bu ami tidak menanggapi, dan hanya menebar senyum sembari mengatakan bahwa yang dia lakukan semata karena ingin membahagiakan saudara sebisanya, masih ada pula yang  meremehkan kecintaan sedekah bu ami dan keluarga. Belum lagi komentar menggelikan yang muncul dengan mengatakan bahwa sedekah bu ami tidak diterima oleh Allah SWT, buktinya adalah keluarga bu ami masih meradang dalam keterbatasan ekonomi yang lemah.
Bukannya berkecil hati, bu ami justru semakin menyenangi aktifitasnya. Suatu ketika ia berujar “balasan terbaik dari Allah, saya mampunya sedekah dengan cara begini, maka saya lakukan sebisa saya. Urusan bagaimana kehidupan duniawi saya, pastinya hanya Allah Yang Maha mencukupi”
Benar memang, bahwa Allah akan membalas setiap sedekah. Tapi tentang apa dan bagaimana bentuk  balasan dari Allah, bukan kita yang bisa mengatur. Tidak selalu balasan itu berupa pengembalian materi dunia yang melimpah, tidak pula selalu berupa harta.  balasan sedekah bisa berupa kebahagiaan batin yang tak terbeli oleh apapun, bisa pula berupa keberkahan umur yang terwujud dalam nikmatnya iman dan ketaatan. Terlebih pastinya balasan itu kita harapkan berupa pertolongan Allah yang sangat kita butuhkan kelak di yaumul hisab. Demikian kira-kira pentafsiran dari penggalan kalimat bu ami.
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
Bahkan, sebelum hari pembalasan, sedekah telah mampu memberi manfaat yang luar biasa bagi mukmin yang melakukannya ikhlas karena Allah ta’ala. Yaitu ketika mukmin tersebut berada di alam barzah menanti saat dibangkitkan di hari akhir nanti. “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873). Subhanallah, masihkah ada alasan untuk meremehkan sedekah?
Maka, dengan berpegang pada penjelasan hadis-hadis di atas, dan beberapa hadis lain yang senada, bu ami tetap mejaga semangat bersedakahnya. Kendati pendapatan tak jua membaik dan roda ekonomi seolah enggan berputar. Sedekah tetap mengalir walaupun cibiran tak jua berhenti dari para pemilik hati yang iri.
Dan kini, anak-anak bu ami telah beranjak dewasa. Masing-masing sudah berkeluarga. Dan memiliki kehidupan yang mapan. Bu ami dan suaminya tinggal menikmati masa tua dengan tenang. Para tetangga menilai betapa beruntungnya bu ami, memiliki anak-anak yang berbakti, tetap peduli dan sangat menghormati  orang tua meski sudah berkeluarga. Sementara ada diantara para tetangga tersebut yang mengalami sebaliknya, dimana masa tua harus berjibaku dengan bentakan anak-anaknya yang dulu pernah bermanja dalam dekapan sang bunda.

Barangkali, Allah SWT mencairkan sebagian kebaikan sedekah bu ami dalam wujud anak-anak yang sholih dan menentramkan hati. Maka, hanya dari Allah sebaik-baik dan seadil-adil balasan atas segala amal kita. Berkhusnuzon kepada Allah SWT adalah pilihan terbaik bagi orang yang beriman.  Wallahu’alam bish showab.

Iqro Juli 2013 : Dalam kepastian Takdir Allah SWT


"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)
Sesungguhnya, Allah merahasiakan waktu, tempat dan bagaimana cara manusia meninggal agar kita senantiasa bersiap diri. Menjauhi maksiat sehingga jangan sampai meninggal dalam keadaan sedang bermaksiat. Nauzubillah mindzalik. Sebuah kisah tentang betapa kematian datang tiba-tiba dan tidak kenal usia, waktu dan tempat. Berharap kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, betapa pentingnya sikap berhati-hati dan senantiasa memperbaiki diri.
Sore itu, gerimis tak kunjung reda setelah turun 3 jam lamanya. Bayang-bayang akan dinginnya tubuh oleh air gerimis tak mampu membendung semangat untuk segera pulang. Ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Penatnya pikiran setelah seharian bekerja harus menyingkir sejenak.
Niat untuk menggeber sepeda sekencang mungkin sesaat tertunda. Manakala tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita sakinah. Semoga Allah mengampuni dosanya, dan menerima segala amal baiknya. Aamiin. Demikian sekelumit isi SMS yang menyesakkan dada.
Sesak di dada. Bagaimana tidak, sakinah, teman kuliah yang siang tadi masih kontak dengan saya untuk menanyakan perihal tugas kuliah yang harus diselesaikan. Sekarang sudah tiada?. “Ini pasti mimpi” demikian pikir saya. Segera saya menghubungi teman yang kemungkinan bisa memberi kepastian informasi. Terpaku lemas di atas motor manakala teman yang saya hubungi mengiyakan kebenaran berita tersebut. Terlebih dia memberi penjelasan singkat mengenai penyebab meninggalnya si sakinah.
Adalah sakinah, gadis cantik berusia 20 an tahun. Sifatnya yang ceria dan selalu ramah membuatnya disukai banyak teman. Secara fisik dan kepribadian, di mata kami, dia mendekati sempurna. Hanya satu yang oleh dia sendiri diakui sebagai kekurangannya. Dia belum berjilbab sesuai yang disyariatkan islam. Hobinya masih seputaran bercelanan jins model pencil, kaos ketat dengan gambar-gambar funky dan high heel yang semakin memperindah cara jalannya.
Beberapa waktu yang lalu, sakinah sempat curhat. “aku pingin pakai jilbab rek, pantes gak ya?” seolah melontar pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Teman yang usil menjawab dengan bercanda “yakin ta na, ntar jilbab kamu Cuma nutup seleher. Body masih dipamerkan pake baju super ketat gitu” selorohnya sambil diikuti gelak tawa beberapa teman yang sedang kumpul.
Segera si sakinah menepis ketus dan serius “jangan ngeledek dong, aku serius dan yakin”. Melihat kesungguhannya, kami segera mengubah formasi mimik wajah. Dukungan langsung bermunculan. Kami berkomitmen untuk menyumbangkan baju maupun jilbab seandainya sakinah berkenan. Namun dengan segera dia menolak halus “aku sudah punya tabungan teman2. Sudah kusiapkan dari lama”.
Subhanallah, kami dibuat bungkam dengan semangat dan keseriusan sakinah. Pandangan kami salah mengenai dia.tidak terbesit sedikipun di benak kami bahwa sakinah telah memeprsiapkan tabungan untuk menunjang penampilan barunya nanti. Mengingat selama ini, sakinah yang kami kenal adalah sosok yang modis dan trendy dengan baju-baju “gaul”nya.
 Dengan sigab masing-masing diantara kami memberi referensi toko busana muslim favorit. Dan sakinah menyambut dengan gembira. Sambil menutup deklarasi itu dengan komitmen langkah pertama “Aku akan memulainya ramadhan tahun ini, jadi masih ada 3 minggu lagi. semangaaat” dengan semangat seolah sedang berorasi, sakinah membuat kami semakin yakin akan niat baiknya.
Dan hari itu, adalah seminggu menjelang ramadhan. Sakinah tengah menambah koleksi busana muslimnya. Dari berita yang saya dengar, dia dalam perjalanan pulang dari sebuah mall bersama saudaranya. Gerimis yang tak henti-henti membuatnya memakai jas hujan. Naas nasibnya, ketika jas hujan model kelelawar nyantol di bak truk yang sedang dia salip. Dan terjadilah kecelakaan itu.
dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
seminggu lagi sakinah akan berjumpa dengan ramadhan nan suci. Seminggu lagi ia akan menutup auratnya dengan hijab sebagaimana islam memerintahkan. Hanya tinggal seminggu lagi. Namun apalah daya, jika Allah berkehendak lain. Ketika kematian di takdirkan Allah menjadi penutup kisah hidupnya.
Tentang sakinah ini, mengingatkan saya pada sebuah hadis rasul yang diriwayatkan oleh Bukhari muslim. Sebuah hadis yang mengisahkan tentang seorang yang mengaku telah membunuh 99 orang, kemudian niat bertaubat dan menemui seorang rahib. Ironinya, sang rahib menyatakan bahwa niat taubat si orang tersebut tidak bisa diterima. Alhasil, sang rahib pun menjadi korban ke 100.
Masih belum menyerah, sang pentaubat berusaha lagi menanyakan di mana ada orang paling alim. Betapa bahagia dia manakala orang alim yang didatangi menyatakan bahwa siapapun berhak bertaubat termasuk dia, bahkan selepas membunuh 100 orang. Dan ketika meninggal dalam perjalanan menuju tempat yang disarankan sang orang alim, ternyata Allah menerima taubatnya padahal belum satupun amal sholih dilakukan. Subhanallah, Maha Pengampun Allah.
Semoga sakinah termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat maghfiroh dari Allah, Mendapat ampunan atas khilaf membuka auratnya. Sementara dia meninggal dalam perjalanan berhijrah menuju syariat islam dalam berhijab. Bahwa dia berpulang dalam perjuangan mengumpulkan kepingan semangat yang pastinya tidak mudah. Semangat berubah ditengah liberalisme keluarganya.
Saudaraku,
Sesungguhnya kisah ini hanyalah secuil diantara kisah-kisah di sekitar kita. Betapa kematian datang tidak terduga. Kita tidak mampu berlari darinya. Apalagi menawar untuk penundaannya. Kisah sakinah yang berharap akan berjumpa dengan ramadhan tercinta untuk memulakan niat menutup auratnya ternyata dikehendaki Allah SWT dengan cara yang lain. Belum lagi jubah itu terkenakan, belum pula jilbab terjulurkan di tubuh, nyawa telah terpisah dari raga. Hanya atas kehendakNya.
Maka, jika diantara kita ada yang memiliki niat baik. Bersegeralah. Di bulan suci ini, jikalau ada kerabat atau sahabat yang pernah tersakiti oleh lisan kita, dan kita berniat meminta maaf. Tidak perlu menunggu idul fitri tiba, karena tidak ada yang menjamin akankah umur ini sampai pada hari nan fitri nanti.
Juga, jikalaupun ada yang sedang berjuang mendekati Allahu Rabbi, memohon ampunan atas segala khilaf, semoga Allah Yang Maha Suci menerima taubatnya dan taubat kita semua.
Dan saudaraku, yakinkan hati bahwa dalam kepastian takdir Allah selalu ada kasih sayang Allah untuk orang beriman. Teruslah  meminta agar Allah senantiasa menjaga kita dengan NurNya. Karena sesungguhnya, godaan dunia ini tak akan sanggup kita hindari tanpa petunjuk dari Nya. Wallau’alam bishawab.


Jumat, 07 Juni 2013

Merajut Syukur dalam Kesederhanaan



Kelelahan fisik selepas menempuh puluhan kilometer perjalanan seakan lunas terbayar oleh desir angin yang menyejukkan. Beranda depan rumah menjadi pilihan  saya memanjakan jasad ini. Sekedar menikmati heningnya malam di pedesaan.
 Dalam nyamannya istirahat, sayup terdengar suara tangis. “seperti seorang perempuan menangis, siapa ya?” Tanya saya dalam hati. Memenuhi hak hati yang tengah penasaran, saya melangkah mencari asal suara. Semakin dekat mulai jelas apa yang saya dengar. Dan memang benar, seorang nenek sedang berbincang dengan ibu saya di beranda samping.
 Mengetahui apa yang terjadi, membuat saya beringsut pergi. Bukannya tidak penasaran, tapi lebih menjaga agar tidak di sebut tukang turut campur. Ketika itu, sempat terdengar beberapa kali  kalimat toyyibah terucap di sela tangis  si nenek. “Alhamdulillahirobbil’alamin….. matur nuwun nduk, Alhamdulillah, Allohuakbar..” demikian nenek berucap dengan suara bergetar.
Adalah mbok Pa, seorang perempuan tua yang kami kenal keisitiqomahan semangat ibadahnya. Bukan suatu kebetulan rumah mbok Pa berada persis di tengah-tengah diantara dua mushollah. beliau tidak pernah absen dari sholat berjamaah. Bahkan sebelum adzan di kumandangkan si nenek sudah duduk manis dalam mushollah dengan tasbih tua kesayangannya. Subhanalloh…
Yang menarik adalah rutinitas si nenek yang memberi  “jatah” kehadiran untuk dua mushollah. Untuk waktu subuh, dhuhur, dan ashar mbok Pa berjamaah dimushollah Baitur Rahim 150 meter di barat rumah. Sedangkan maghrib dan isya’ insyaAlloh bisa dipastikan beliau menghadiri sholat berjamaah di mushollah Nurul Aghfar, 100 meter perjalanan ke timur. “Biar adil nduk, mumpung isih urip” begitu ungkap beliau singkat manakala saya bertanya alasan membagi jadwal. Sebuah syukur yang diwujudkan dalam indahnya ketaatan pada Ilahi. Subhanalloh
Tidak hanya itu, keadaan fisik si nenek juga membuat saya malu melihat semangat beliau. Tubuhnya yang renta sudah tidak mampu berdiri dengan tegak. Dengan tertatih, beliau menuju mushollah dalam posisi tubuh seperti orang sedang ruku’ dalam sholat. Ya… tubuhnya telah bungkuk membentuk sudut 90 derajat. Subhanalloh… di antara kita, bahkan mungkin ada yang urung berangkat sholat berjamaah lantaran capek sedikit.
Sebagian orang akan berpikir wajar jika si nenek aktif ibadah walau dengan tubuh yang mengibakan hati. Karena usia beliau yang sudah lanjut. Padahal tidak demikian, semangat si nenek ini sudah ada dari dulu bahkan sebelum tubuhnya merapuh seperti sekarang. Maha Suci Alloh yang memberikan keteguhan hati untuk si mbok istiqomah dalam ibadahnya.
Malam ini, saya sengaja menunggu diam di beranda rumah. “mbok Pa kenapa tadi, buk? Kok nangis gitu?” segera saya menghampiri ibu sesaat setelah si mbok meninggalkan rumah kami. Ibu pun menjawab dengan santai bahwa keadaan itu sudah biasa. “biasa bagaimana?” semakin penasaran saya mendesak ibu untuk cerita.
Dari cerita ibu, bertambah lagi catatan mengagumkan tentang sosok mbok Pa di mata saya. Menurut ibu, si mbok terkenal gampang menangis. Bukan karena kesulitan hidup atau derita dunia yang membuat beliau menangis. Tapi rasa syukur dan bahagia yang justru memberai air mata beliau.
Malam ini, kembali mbok Pa mengajari indahnya syukur kepada saya dan kita semua. Betapa tidak, bagi sebagian orang barangkali terasa biasa saja ketika semangkuk kolak disuguhkan manakala bertamu. Namun tidak untuk si mbok, rasa syukur yang beliau wujudkan dalam untaian kalimat toyyibah dan airmata bahagia itu adalah nyata dan tidak ada kesan di buat-buat.
Melihat berterimakasihnya mbok Pa menerima sedikit makanan, barangkali ada yang berpikir si mbok hidup dalam kekurangan. Tidak demikian nyatanya, karena mbok Pa adalah keluarga yang cukup secara financial dan senang berbagi. Syukur yang beliau teladankan pada kita pada dasarnya merupakan kewajiban bagi seorang hamba.
Jangankan semangkuk kolak, sebuah salam dan jabat tangan yang kita berikan, insyaAlloh dibalas dengan ketulusan do’a yang luar biasa “Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah. Matur nuwun nduk,.. mugi-mugi barokah, sehat awak e, kuat  atine ngedepi cubo, mung pasrah marang Alloh ta’ala. Laa ilaaha illallah”. Beginilah si mbok  akan menjawab salam kita. Jawaban yang panjang dan kadang terkesan berlebihan. Tapi saya selalu menikmati ketulusan doa beliau dan mengakhiri dengan Amiin Ya Rabb.
***
Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS Ibrahim : 8).
Subhanalloh Alhamdulillah wa Laa illaha illallah Allohuakbar. Allah Ar Rahim menciptakan kita dalam sebuah kesempurnaan rencana. Tidak ada cacat atas takdir Allah Swt. Andaipun hari ini tidak sesuai dengan perencanaan kita, sungguh nikmat sekarang ini adalah takdir terbaik untuk kita. Syukurnya seorang hamba bukanlah kebutuhan Allah Al Mutakabbir, justru kita yang lemah inilah sangat berkepentingan terhadap syukur itu.
Menjadi pribadi syukur butuh sebuah proses. Mulai dari menyadari siapa kita, dari apa kita di ciptakan, untuk apa kita diciptakan hingga kepada siapa kita akan dikembalikan.
Terlahir dalam keadaan telanjang merupakan wujud kelemahan dan kefakiran kita. Kemudian Alloh Swt memberikan rizki Nya melalui orang tua yang menafkahi kita. Dalam perkembangan selanjutnya fisik kita di tumbuhkan kian kuat, akal kita di penuhi dengan ilmu. Dan dengan keduanya kita berikhtiar memenuhi kebutuhan. Maka ketika sekarang kita masih bisa bernafas, masih sehat, bisa bekerja, memiliki keluarga  yang barokah, maka nikmat Alloh Swt manakah yang bisa kita dustakan (ingkari).
Semoga kita, keluarga sejuk nurul hayat semua, di jadikan Alloh Swt dalam golongan hamba yang bersyukur. Amin Yaa Rabb.

Sabtu, 01 Juni 2013

Iqro Juni 2013 : Di Ujung Penantian



Rasulullah Mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. ( HR.Ahmad)
Betapa bahagia apabila kita menjadi bagian orang-orang mukim yang dikagumi Rasululloh saw. Manusia mulia sebaik-baik teladan sepanjang masa dalam hal keindahan cara bersyukur maupun kerendahan hati  dalam bersabar. Alangkah beruntungnya orang-orang yang mampu meneladani akhlak Rasul yang mulia. Tentu semangat ini ada di hati kita semua sebagai umat beliau.
Di antara jutaan umat rasululloh saw yang tiada putus asa berjuang meneladani beliau, ada seorang wanita luar biasa yang saya kenal. Nur ziadatul ilmiah namanya. Dia adalah sahabat karib saya semenjak kelas 1 SD. Kecintaan nya pada baginda rasululloh kerap membuat saya kagum sampai merasa “iri”. Betapa Allah memberikan karunia yang indah untuknya.
Zida, demikian saya akrab memanggilnya. Nama ini bukan nama yang diberikan orang tuanya semenjak lahir. Melainkan nama pemberian kyai nya sewaktu zida mondok di sebuah pesantren. Menurut pak Yai, nama ini lebih cocok untuknya yang sangat semangat menuntut ilmu.  Enam tahun dilalui zida di sebuah pesantren di pelosok jawa timur. Hingga suatu hari dia pamit “boyong” – (pulang tidak kembali) karena di minta oleh ibunya.
Berat bagi zida untuk meninggalkan pondok. Apalagi saat itu kepulangannya untuk menerima pinangan dari seorang pemuda. Tidak pernah terpikir olehnya menikah di usia belasan tahun. Namun, kepatuhannya pada sang ibu, menjadikan kegelisahannya  tersimpan rapat-rapat di lubuk hati yang paling dalam. Tak seorang pun ia beri tahu, kecuali saya.
Tepat di usia 19 tahun, zida menikah dengan seorang pemuda satu desa. Seminggu sekali setidaknya saya  silaturrahim sekedar menanyakan kabarnya dan menghibur kesendiriannya di tinggal suami bekerja. Bulan pertama pernikahan berlalu begitu indah. Tampak rona wajah kebahagiaan selalu menyembul manakala saya bersua. Hingga bulan ke empat, entah mengapa keadaan mulai berubah. Wajahnya tak seceria dulu, ceritanya mulai di hiasi dengan tangis.
Menginjak bulan ke tujuh, saya semakin bingung mendengar sedu sedan cerita zida yang menghiasai pertemuan kami. Dari penuturannya, sang suami mulai main pukul. Terjadi beda pedapat sedikit tamparan melayang. Ketika suami emosi, apapun yang dilakukan zida pasti salah. Diam salah, berkomentarpun lebih salah. Tak ayal, saya benar melihat pipi dan beberapa bagian tubuh lain tampak lebam oleh pukulan.
Dengan pemikiran yang kurang dewasa, saya menyarankan agar zida minta cerai saja. Namun apa jawabnya, “Aku tidak akan minta cerai, Allah dan rasulNya tidak menyukai perceraian. Aku yakin, Allah tidak akan membiarkanku sendiri” begitu selalu jawabnya. Sungguh saya melihat ketulusan dari jawabannya. Dan tidak habis pikir betapa tidak punya hatinya si suami zida, main pukul sementara kondisi istri sedang hamil muda.
Beberapa bulan kemudian, zida melahirkan seorang bayi perempuan. Diberilah nama NALA yang menurut dia artinya jantung hati. Diantara sekian ujian yang menghempas ke arahnya, masih ada yang selalu dia temukan untuk di syukuri. Hari demi hari dilalui dengan ketegaran yang luar biasa. Suami yang suka main pukul tidak lagi mampu menggoyahkan kebahagiaan zida. Keadaan ekonomi yang tiba-tiba merosot manakala suami kena PHK, juga tak mengurangi rasa syukurnya. Dengan mengambil pekerjaan borongan mengikat plastic krupuk, zida menjaga nala sambil bekerja di rumah.
Pertikaian dengan suami mencapai puncak, manakala si kecil menjadi sasaran amuk sang suami. Dengan segenap keberanian yang tersisa, zida akhirnya minta cerai. Bagi dia, tidak mengapa jika tubuhnya remuk redam oleh hajaran suami, tapi tidak dengan anaknya. Al hasil mereka bercerai di usia pernikahan yang baru menginjak pertengahan tahun ke dua.
Dalam kesendirian sebagai single parent, zida bekerja seadanya. Pagi masih mengambil kerjaan borongan dengan pendapatan 5 ribu sehari, sorenya dia mengajar ngaji di TPQ. Kesabarannya yang luar biasa membuatnya tampak terlihat ceria seolah tidak ada masalah yang membelit.
Tiga tahun berlalu, Allah kemudian mengirimkan pertolongannya. Seorang pria dating melamar zida melalui ta’aruf pihak ke tiga. Pernikahanpun berlangsung dengan sederhana, mengingat calon suami zida adalah duda dengan dua anak. Hari berlanjut dimana zida kini merawat 3 anak sekaligus. Guratan-guratan lelah diwajahnya mulai tampak, tapi tersembunyi di balik senyumnya. Lagi-lagi rasa syukur zida akan karunia Sang Khalik selalu dan selalu ada dalam kondisi apapun.
Hari berlalu, bulan berganti. Belum melampaui tahun pertama pernikahan, kembali zida di hempas oleh ujian dahsyat. Suami ke duanya meninggal secara tiba-tiba. Karena sebuah sakit yang disembunyikan oleh sang suami. Belum lagi, keluarga besar pihak suami menggunggat rumah yang ditinggali zida sebagai hak waris anak-anak suaminya. Dengan pasrah zida melepas kepergian suami, dan mengembalikan harta benda yang di minta keluarga, tak menyisakan sedikitpun.
Saya, ketika itu hanya tertegun melihat kesabarannya. Zida masih bisa tersenyum mengucapkan terima kasih pada pentakziyah, juga minta maaf pada keluarga  karena merasa tidak bisa menjaga suaminya dengan baik. Subhanallah, ingin menghambur keluar sebanyak mungkin air mata ini, tapi malu jika melihat mata zida kering karena air mata ia sembunyikan dalam kesendirian.
Dalam hati saya ber do’a, semoga Allah menghadiahi sebaik-baik balasan untuk kesabaran yang dimiliki wanita itu. Sebagaimana Allah berjanji “…Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Aamiin.
Kembali dalam sendiri. Zida dan si kecil nala yang berusia hampir empat tahun, melanjutkan takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk mereka. Karena kebutuhan hidup semakin meningkat, pilihan sebagai pekerja borngan pabrik plastic harus ditinggalkan zida. Dia kemudian memilih menjadi buruh pabrik benang. Dengan penghasilan 25 ribu sehari. Cukup untuk makan dan jajan nala. Serta persiapan masuk sekolah.
Setiap kali bertemu dengannya, saya tidak pernah mendengar zida berkeluh kesah. Yagn ada hanya cerita betapa nala berkembang jadi anak cerdas. Dan cerita-cerita bahagian lainnya. Seolah goresan kisah masa lalunya hanya mimpi.
Dua tahun sepeninggal suami ke duanya, saya mendapat kabar gembira.ada seorang pria kembali dating meminang zida. Kali ini kabar agak terlambat saya terima. Karena kesibukan, bahkan saya tidak sempat menghadiri pernikahannya. Juga belum sempat bertemu dengan zida dan suaminya.
Dari kabar yang santer terdengar, suami ke tiga zida adalah seorang pengusaha. Dengan kehidupa ekonomi yang mapan dan hanya punya satu anak. Zida menghilang mengikuti domisili suami. Dia menghilang tanpa jejak. Seolah enggan masa lalu mengikutinya. Seolah ingin ia tinggalkan perih yang selama ini menggelayut di bahunya.
Selamat jalan zida, selamat menempuh hidup baru. Semoga keluarga yang engkau bentuk kali ini, sakinah mawaddah warrahmah hingga akhir hayat. Penantianmu akan janji Allah barangkali kini telah sampai. Kesabaranmu yang selalu engkau ajarkan pada ku tak akan aku lupakan.
Saudaraku, kisah zida hanya sekelumit diantara rangkaian takdir Allah di bumi ini. Semoga pelajaran yang diberikan oleh sahabat saya dalam kisah ini, menjadi pelajaran berharga juga untuk kita semua. Tanpa kita harus melampui getir takdir sebagaimana yang dilampui zida. Mohon do’anya juga, semoga sahabat saya ini menemukan kebahaigaan di ujung penantian dia selama ini. Dan semoga kita, diberi kekuatan untuk bersyukur dan keikhlasan untuk bersabar atas segala takdir Allah. Wallahu’alam bishowab.
“Sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)