Rasulullah Mengagumi seorang mukmin yang
bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ia ditimpa
musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. ( HR.Ahmad)
Betapa bahagia apabila kita
menjadi bagian orang-orang mukim yang dikagumi Rasululloh saw. Manusia mulia
sebaik-baik teladan sepanjang masa dalam hal keindahan cara bersyukur maupun
kerendahan hati dalam bersabar. Alangkah
beruntungnya orang-orang yang mampu meneladani akhlak Rasul yang mulia. Tentu
semangat ini ada di hati kita semua sebagai umat beliau.
Di antara jutaan umat rasululloh
saw yang tiada putus asa berjuang meneladani beliau, ada seorang wanita luar
biasa yang saya kenal. Nur ziadatul ilmiah namanya. Dia adalah sahabat karib
saya semenjak kelas 1 SD. Kecintaan nya pada baginda rasululloh kerap membuat
saya kagum sampai merasa “iri”. Betapa Allah memberikan karunia yang indah
untuknya.
Zida, demikian saya akrab
memanggilnya. Nama ini bukan nama yang diberikan orang tuanya semenjak lahir.
Melainkan nama pemberian kyai nya sewaktu zida mondok di sebuah pesantren.
Menurut pak Yai, nama ini lebih cocok untuknya yang sangat semangat menuntut
ilmu. Enam tahun dilalui zida di sebuah
pesantren di pelosok jawa timur. Hingga suatu hari dia pamit “boyong” – (pulang
tidak kembali) karena di minta oleh ibunya.
Berat bagi zida untuk
meninggalkan pondok. Apalagi saat itu kepulangannya untuk menerima pinangan
dari seorang pemuda. Tidak pernah terpikir olehnya menikah di usia belasan
tahun. Namun, kepatuhannya pada sang ibu, menjadikan kegelisahannya tersimpan rapat-rapat di lubuk hati yang
paling dalam. Tak seorang pun ia beri tahu, kecuali saya.
Tepat di usia 19 tahun, zida
menikah dengan seorang pemuda satu desa. Seminggu sekali setidaknya saya silaturrahim sekedar menanyakan kabarnya dan
menghibur kesendiriannya di tinggal suami bekerja. Bulan pertama pernikahan
berlalu begitu indah. Tampak rona wajah kebahagiaan selalu menyembul manakala
saya bersua. Hingga bulan ke empat, entah mengapa keadaan mulai berubah.
Wajahnya tak seceria dulu, ceritanya mulai di hiasi dengan tangis.
Menginjak bulan ke tujuh, saya
semakin bingung mendengar sedu sedan cerita zida yang menghiasai pertemuan
kami. Dari penuturannya, sang suami mulai main pukul. Terjadi beda pedapat
sedikit tamparan melayang. Ketika suami emosi, apapun yang dilakukan zida pasti
salah. Diam salah, berkomentarpun lebih salah. Tak ayal, saya benar melihat
pipi dan beberapa bagian tubuh lain tampak lebam oleh pukulan.
Dengan pemikiran yang kurang
dewasa, saya menyarankan agar zida minta cerai saja. Namun apa jawabnya, “Aku
tidak akan minta cerai, Allah dan rasulNya tidak menyukai perceraian. Aku
yakin, Allah tidak akan membiarkanku sendiri” begitu selalu jawabnya. Sungguh
saya melihat ketulusan dari jawabannya. Dan tidak habis pikir betapa tidak
punya hatinya si suami zida, main pukul sementara kondisi istri sedang hamil
muda.
Beberapa bulan kemudian, zida
melahirkan seorang bayi perempuan. Diberilah nama NALA yang menurut dia artinya
jantung hati. Diantara sekian ujian yang menghempas ke arahnya, masih ada yang
selalu dia temukan untuk di syukuri. Hari demi hari dilalui dengan ketegaran
yang luar biasa. Suami yang suka main pukul tidak lagi mampu menggoyahkan
kebahagiaan zida. Keadaan ekonomi yang tiba-tiba merosot manakala suami kena
PHK, juga tak mengurangi rasa syukurnya. Dengan mengambil pekerjaan borongan
mengikat plastic krupuk, zida menjaga nala sambil bekerja di rumah.
Pertikaian dengan suami mencapai
puncak, manakala si kecil menjadi sasaran amuk sang suami. Dengan segenap
keberanian yang tersisa, zida akhirnya minta cerai. Bagi dia, tidak mengapa
jika tubuhnya remuk redam oleh hajaran suami, tapi tidak dengan anaknya. Al
hasil mereka bercerai di usia pernikahan yang baru menginjak pertengahan tahun
ke dua.
Dalam kesendirian sebagai single
parent, zida bekerja seadanya. Pagi masih mengambil kerjaan borongan dengan
pendapatan 5 ribu sehari, sorenya dia mengajar ngaji di TPQ. Kesabarannya yang
luar biasa membuatnya tampak terlihat ceria seolah tidak ada masalah yang membelit.
Tiga tahun berlalu, Allah
kemudian mengirimkan pertolongannya. Seorang pria dating melamar zida melalui
ta’aruf pihak ke tiga. Pernikahanpun berlangsung dengan sederhana, mengingat
calon suami zida adalah duda dengan dua anak. Hari berlanjut dimana zida kini
merawat 3 anak sekaligus. Guratan-guratan lelah diwajahnya mulai tampak, tapi
tersembunyi di balik senyumnya. Lagi-lagi rasa syukur zida akan karunia Sang
Khalik selalu dan selalu ada dalam kondisi apapun.
Hari berlalu, bulan berganti.
Belum melampaui tahun pertama pernikahan, kembali zida di hempas oleh ujian
dahsyat. Suami ke duanya meninggal secara tiba-tiba. Karena sebuah sakit yang
disembunyikan oleh sang suami. Belum lagi, keluarga besar pihak suami
menggunggat rumah yang ditinggali zida sebagai hak waris anak-anak suaminya.
Dengan pasrah zida melepas kepergian suami, dan mengembalikan harta benda yang
di minta keluarga, tak menyisakan sedikitpun.
Saya, ketika itu hanya tertegun
melihat kesabarannya. Zida masih bisa tersenyum mengucapkan terima kasih pada
pentakziyah, juga minta maaf pada keluarga
karena merasa tidak bisa menjaga suaminya dengan baik. Subhanallah,
ingin menghambur keluar sebanyak mungkin air mata ini, tapi malu jika melihat
mata zida kering karena air mata ia sembunyikan dalam kesendirian.
Dalam hati saya ber do’a, semoga Allah menghadiahi
sebaik-baik balasan untuk kesabaran yang dimiliki wanita itu. Sebagaimana Allah
berjanji “…Sesungguhnya, hanya orang-orang
yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Aamiin.
Kembali
dalam sendiri. Zida dan si kecil nala yang berusia hampir empat tahun,
melanjutkan takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk mereka. Karena
kebutuhan hidup semakin meningkat, pilihan sebagai pekerja borngan pabrik plastic
harus ditinggalkan zida. Dia kemudian memilih menjadi buruh pabrik benang.
Dengan penghasilan 25 ribu sehari. Cukup untuk makan dan jajan nala. Serta
persiapan masuk sekolah.
Setiap
kali bertemu dengannya, saya tidak pernah mendengar zida berkeluh kesah. Yagn
ada hanya cerita betapa nala berkembang jadi anak cerdas. Dan cerita-cerita
bahagian lainnya. Seolah goresan kisah masa lalunya hanya mimpi.
Dua tahun
sepeninggal suami ke duanya, saya mendapat kabar gembira.ada seorang pria
kembali dating meminang zida. Kali ini kabar agak terlambat saya terima. Karena
kesibukan, bahkan saya tidak sempat menghadiri pernikahannya. Juga belum sempat
bertemu dengan zida dan suaminya.
Dari kabar
yang santer terdengar, suami ke tiga zida adalah seorang pengusaha. Dengan
kehidupa ekonomi yang mapan dan hanya punya satu anak. Zida menghilang
mengikuti domisili suami. Dia menghilang tanpa jejak. Seolah enggan masa lalu
mengikutinya. Seolah ingin ia tinggalkan perih yang selama ini menggelayut di
bahunya.
Selamat
jalan zida, selamat menempuh hidup baru. Semoga keluarga yang engkau bentuk
kali ini, sakinah mawaddah warrahmah hingga akhir hayat. Penantianmu akan janji
Allah barangkali kini telah sampai. Kesabaranmu yang selalu engkau ajarkan pada
ku tak akan aku lupakan.
Saudaraku,
kisah zida hanya sekelumit diantara rangkaian takdir Allah di bumi ini. Semoga
pelajaran yang diberikan oleh sahabat saya dalam kisah ini, menjadi pelajaran
berharga juga untuk kita semua. Tanpa kita harus melampui getir takdir
sebagaimana yang dilampui zida. Mohon do’anya juga, semoga sahabat saya ini
menemukan kebahaigaan di ujung penantian dia selama ini. Dan semoga kita,
diberi kekuatan untuk bersyukur dan keikhlasan untuk bersabar atas segala
takdir Allah. Wallahu’alam bishowab.
“Sungguh,
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Baqarah: 155)