Senin, 19 Mei 2014

Aku Wanita Karir, Anakku Sholihah




Assalamu'alaikum sahabat
Lama tidak nge pos tulisan. berasa bertahun-tahun. Tidak ada alasan yang diizinkan untuk mentolerir ke-MALAS-an menulis, hihihi.... akhirnya, ditengah rapat kwartal 1, tempat berkumpulnya para branch manajer, manager, dan direktur yayasan nurul hayat, hati memaksa tangan untuk menuangkan dakwah dalam tulisan.
Tulisan-tulisan yang lalu merupakan copas dari tulisan saya yang di muat di majalah hikmah nurul hayat. sejak januari 2014, saya putuskan untuk tidak menulis lagi di majalah. ketidak mampuan saya dalam memenuhi deadline tanggal dari redaksi, mangakibatkan redaksi majalah kerap terengah-engah ngejar deadline. sementara majalah nurul hayat ditunggu lebih dari 70.000 donatur. kasian mereka hmmm.

Al hasil, kali ini saya mencoret secukupnya.  tentang parenting. tanpa bekal titel sarjana psikologi anak, saya menulis berdasarkan pengalaman. jadi, mohon maaf kalau ada yang kurang sependapat dengan saya ya. :)


Ditengah kita sekarang ini, sudah populer tentang para ibu yang bekerja. saya, termasuk dalam kelompok yang mendukung ibu berkarir dengan batasan-batasan.
saya tidak sedang membahas ketentuan-ketentuan tersebut. tapi kali ini saya hendak fokus pada konsekwensi yang harus kita lakukan ditengah kesibukan sebagai seorang ibu karir. 
Saya berangkat kerja pukul 6.30 dan pulang ke rumah pukul 19.30. belum lagi jika harus ada meeting dengan para direktur yang lain untuk membahas tentang kemanfaatan umat. Dan juga ketika  saya harus keliling ke cabang-cabang nurul hayat yang tersebar di wilayah-wilayah indonesai. Sebagian besar orang bertanya “kapan waktu untuk anak, apa tidak kasihan” dan sebagainya.Saya tidak heran jika ada orang di sekitar mengecap saya gila jabatan, gila harta, dan lain-lain. Karena yang mereka lihat adalah jam kerja saya yang seolah diburu nafsu.
Sekedar diketahui, tempat kerja saya adalah sebuah lembaga social dan dakwah. Berbagi kemanfaatan dengan puluhan ribu yatim dan dhuafa. Dan karena itu, saya enggan untuk berpindah tempat kerja. Walaupun andai kerja di tempat lain, asal halal, dan niat ihlas karena Allah SWT, tetep berkah. insyaAllah.
Jika jam kerja saya menggila seperti itu, lalu bagaimana dengan anak saya? Barangkali itu yang ada di pikiran sahabat semua. Maka izinkan saya crita sedikit kisah berkenaan dengan itu.
Beberapa waktu lalu, dua orang pendidik (ustazah) di sekolah tempat anak saya menuntut ilmu, melakukan visit ke rumah. Tujuannya menjalin komukasi dengan orang tua tentunya. Beliau berdua tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ketika saya crita jam kerja saya. Salah satu diantara beliau berujar “kok bisa ya bunda, mbak icha (panggilan anak saya) jadi seperti sekarang dengan kondisi bundanya yang sibuk seperti njenengan”.
Menurut info beliau berdua, anak saya menjadi asisten ustazahnya dalam banyak hal. Misal dalam mengkondisikan teman, menyampaikan pesan dari ustazah satu ke yang lain, mengawali tes-tes hafalan Al Qur’an dan hadits dan lain-lain. Icha dipilih karena kesantunan akhlaknya, lembut tutur bahasanya, dan cerdas akalnya. Demikian penjelasan sang ustazah. Tentu syukur yang tak terkira atas hadiah yang Allah SWT berikan kepada saya.
Sahabat, para bunda dan orang tua. Tidak apa ketika kita tengah menjalani takdir berkarir. Ini tips untuk bisa diikhtiarkan dalam membentuk anak yang solih dan solihah :
1.      Pasang niat baik-baik. Perhatikan dan pastikan bahwa niatnya murni karena Allah ta’ala. Jika sudah niat karena Allah, maka insyaAllah setiap langkah kita akan dilimpahi keberkahan yang tentu berdampak sangat pada siapa saja yang makan dari rizki kita.
2.      Pasrahkan penjagaan buah hati pada Allah SWT. Ketika berangkat kerja, kuatkan hati dengan mendoa agar Allah menjaga buah hati kita. Karena Allah lah sebaik-baik penjaga. Allah Maha lembut, maka yakin bahwa anak kita akan baik-baik saja dalam penjagaanNya
3.      Pilih tempat kerja yang halal dan aman. Pastikan tempat kerja kita bergerak di bidang bisnis yang halal. Tidak riba, tidak berhubungan dengan khamr, dan lain-lain. Juga tempat kerja yang aman bagi para wanita muslimah. Sebuah tempat kerja yang mengizinkan kita tetap mengenakan jilbab yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah.
4.      Selalu luangkan waktu untuk mendengarkan cerita, berbagi kisah, memeluk dan mengajak jalan-jalan. Perlu diperhatikan bahwa jalan-jalan di sini bukan shopping di mall. Karena itu ada kecenderungan mendidik jiwa konsumtif. Apalagi kalau bahasanya “hanya lihat-lihat”. Jika ada barang yang mereka inginkan, maka mereka akan menyimpan dalam hati dan meledakkan di kemudian hari. Ajak lah jalan-jalan ke lokasi terbuka nuansa alam, bahkan di lokasi sekitar rumah sendiri juga menarik.
5.      Dalam setiap usai sholat, jangan lupa selipkan doa untuk buah hati kita selalu. Ikhtiar dhohir sudah kita lakukan dengan memasukkan ke sekolah nuansa islami, memaksimalkan kualitas bersama anak-anak, dan lainnya. Tingal menguati di ikhtiar batin. Ibarat kaki, ikhtiar dhohir dan batin adalah kaki kanan dan kiri. insyaAllah lebih maksimal kalau melangkah dengan keduanya. Aamiin..
Wallahu’alam bishshowab.

2 komentar:

  1. Haiiii mbak Deniiik...
    Duh, meleleh banget baca tulisan ini...
    Sangat bisa dimasukkan di rubrik BAGI-BAGI looh *kedip-kedip*
    ---> @nurulrahma yg bisa temukan blog ini dgn bantuan om google

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak nurul apa kabar, kangennnn pake bingits. pingin belajar bikin blog yg keren ke masternya blog,, kapan2 boleh main ke mbak nurul ya mbaakk.

      Hapus