Assalamu'alaikum sahabat
Lama tidak nge pos tulisan. berasa bertahun-tahun. Tidak ada alasan yang diizinkan untuk mentolerir ke-MALAS-an menulis, hihihi.... akhirnya, ditengah rapat kwartal 1, tempat berkumpulnya para branch manajer, manager, dan direktur yayasan nurul hayat, hati memaksa tangan untuk menuangkan dakwah dalam tulisan.
Tulisan-tulisan yang lalu merupakan copas dari tulisan saya yang di muat di majalah hikmah nurul hayat. sejak januari 2014, saya putuskan untuk tidak menulis lagi di majalah. ketidak mampuan saya dalam memenuhi deadline tanggal dari redaksi, mangakibatkan redaksi majalah kerap terengah-engah ngejar deadline. sementara majalah nurul hayat ditunggu lebih dari 70.000 donatur. kasian mereka hmmm.
Al hasil, kali ini saya mencoret secukupnya. tentang parenting. tanpa bekal titel sarjana psikologi anak, saya menulis berdasarkan pengalaman. jadi, mohon maaf kalau ada yang kurang sependapat dengan saya ya. :)
Ditengah kita sekarang ini, sudah populer tentang para ibu
yang bekerja. saya, termasuk dalam kelompok yang mendukung ibu berkarir dengan
batasan-batasan.
saya tidak sedang membahas ketentuan-ketentuan tersebut.
tapi kali ini saya hendak fokus pada konsekwensi yang harus kita lakukan
ditengah kesibukan sebagai seorang ibu karir.
Saya berangkat kerja pukul 6.30 dan pulang ke rumah
pukul 19.30. belum lagi jika harus ada meeting dengan para direktur yang lain
untuk membahas tentang kemanfaatan umat. Dan juga ketika saya harus keliling ke cabang-cabang nurul
hayat yang tersebar di wilayah-wilayah indonesai. Sebagian besar orang bertanya
“kapan waktu untuk anak, apa tidak kasihan” dan sebagainya.Saya tidak heran jika
ada orang di sekitar mengecap saya gila jabatan, gila harta, dan lain-lain.
Karena yang mereka lihat adalah jam kerja saya yang seolah diburu nafsu.
Sekedar diketahui, tempat kerja saya adalah sebuah lembaga
social dan dakwah. Berbagi kemanfaatan dengan puluhan ribu yatim dan dhuafa.
Dan karena itu, saya enggan untuk berpindah tempat kerja. Walaupun andai kerja
di tempat lain, asal halal, dan niat ihlas karena Allah SWT, tetep berkah.
insyaAllah.
Jika jam kerja saya menggila seperti itu, lalu bagaimana
dengan anak saya? Barangkali itu yang ada di pikiran sahabat semua. Maka
izinkan saya crita sedikit kisah berkenaan dengan itu.
Beberapa waktu lalu, dua orang pendidik (ustazah) di sekolah
tempat anak saya menuntut ilmu, melakukan visit ke rumah. Tujuannya menjalin
komukasi dengan orang tua tentunya. Beliau berdua tidak bisa menyembunyikan
keterkejutan ketika saya crita jam kerja saya. Salah satu diantara beliau
berujar “kok bisa ya bunda, mbak icha (panggilan anak saya) jadi seperti
sekarang dengan kondisi bundanya yang sibuk seperti njenengan”.
Menurut info beliau berdua, anak saya menjadi asisten
ustazahnya dalam banyak hal. Misal dalam mengkondisikan teman, menyampaikan
pesan dari ustazah satu ke yang lain, mengawali tes-tes hafalan Al Qur’an dan
hadits dan lain-lain. Icha dipilih karena kesantunan akhlaknya, lembut tutur
bahasanya, dan cerdas akalnya. Demikian penjelasan sang ustazah. Tentu syukur
yang tak terkira atas hadiah yang Allah SWT berikan kepada saya.
Sahabat, para bunda dan orang tua. Tidak apa ketika kita
tengah menjalani takdir berkarir. Ini tips untuk bisa diikhtiarkan dalam
membentuk anak yang solih dan solihah :
1.
Pasang niat baik-baik. Perhatikan dan pastikan bahwa
niatnya murni karena Allah ta’ala. Jika sudah niat karena Allah, maka
insyaAllah setiap langkah kita akan dilimpahi keberkahan yang tentu berdampak
sangat pada siapa saja yang makan dari rizki kita.
2.
Pasrahkan penjagaan buah hati pada Allah SWT. Ketika
berangkat kerja, kuatkan hati dengan mendoa agar Allah menjaga buah hati kita.
Karena Allah lah sebaik-baik penjaga. Allah Maha lembut, maka yakin bahwa anak
kita akan baik-baik saja dalam penjagaanNya
3.
Pilih tempat kerja yang halal dan aman. Pastikan tempat
kerja kita bergerak di bidang bisnis yang halal. Tidak riba, tidak berhubungan
dengan khamr, dan lain-lain. Juga tempat kerja yang aman bagi para wanita
muslimah. Sebuah tempat kerja yang mengizinkan kita tetap mengenakan jilbab
yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah.
4.
Selalu luangkan waktu untuk mendengarkan cerita,
berbagi kisah, memeluk dan mengajak jalan-jalan. Perlu diperhatikan bahwa
jalan-jalan di sini bukan shopping di mall. Karena itu ada kecenderungan
mendidik jiwa konsumtif. Apalagi kalau bahasanya “hanya lihat-lihat”. Jika ada
barang yang mereka inginkan, maka mereka akan menyimpan dalam hati dan
meledakkan di kemudian hari. Ajak lah jalan-jalan ke lokasi terbuka nuansa
alam, bahkan di lokasi sekitar rumah sendiri juga menarik.
5.
Dalam setiap usai sholat, jangan lupa selipkan doa
untuk buah hati kita selalu. Ikhtiar dhohir sudah kita lakukan dengan
memasukkan ke sekolah nuansa islami, memaksimalkan kualitas bersama anak-anak,
dan lainnya. Tingal menguati di ikhtiar batin. Ibarat kaki, ikhtiar dhohir dan
batin adalah kaki kanan dan kiri. insyaAllah lebih maksimal kalau melangkah
dengan keduanya. Aamiin..
Wallahu’alam bishshowab.
Haiiii mbak Deniiik...
BalasHapusDuh, meleleh banget baca tulisan ini...
Sangat bisa dimasukkan di rubrik BAGI-BAGI looh *kedip-kedip*
---> @nurulrahma yg bisa temukan blog ini dgn bantuan om google
mbak nurul apa kabar, kangennnn pake bingits. pingin belajar bikin blog yg keren ke masternya blog,, kapan2 boleh main ke mbak nurul ya mbaakk.
Hapus