Kamis, 01 Agustus 2013

Iqro Juli 2013 : Dalam kepastian Takdir Allah SWT


"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)
Sesungguhnya, Allah merahasiakan waktu, tempat dan bagaimana cara manusia meninggal agar kita senantiasa bersiap diri. Menjauhi maksiat sehingga jangan sampai meninggal dalam keadaan sedang bermaksiat. Nauzubillah mindzalik. Sebuah kisah tentang betapa kematian datang tiba-tiba dan tidak kenal usia, waktu dan tempat. Berharap kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, betapa pentingnya sikap berhati-hati dan senantiasa memperbaiki diri.
Sore itu, gerimis tak kunjung reda setelah turun 3 jam lamanya. Bayang-bayang akan dinginnya tubuh oleh air gerimis tak mampu membendung semangat untuk segera pulang. Ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Penatnya pikiran setelah seharian bekerja harus menyingkir sejenak.
Niat untuk menggeber sepeda sekencang mungkin sesaat tertunda. Manakala tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita sakinah. Semoga Allah mengampuni dosanya, dan menerima segala amal baiknya. Aamiin. Demikian sekelumit isi SMS yang menyesakkan dada.
Sesak di dada. Bagaimana tidak, sakinah, teman kuliah yang siang tadi masih kontak dengan saya untuk menanyakan perihal tugas kuliah yang harus diselesaikan. Sekarang sudah tiada?. “Ini pasti mimpi” demikian pikir saya. Segera saya menghubungi teman yang kemungkinan bisa memberi kepastian informasi. Terpaku lemas di atas motor manakala teman yang saya hubungi mengiyakan kebenaran berita tersebut. Terlebih dia memberi penjelasan singkat mengenai penyebab meninggalnya si sakinah.
Adalah sakinah, gadis cantik berusia 20 an tahun. Sifatnya yang ceria dan selalu ramah membuatnya disukai banyak teman. Secara fisik dan kepribadian, di mata kami, dia mendekati sempurna. Hanya satu yang oleh dia sendiri diakui sebagai kekurangannya. Dia belum berjilbab sesuai yang disyariatkan islam. Hobinya masih seputaran bercelanan jins model pencil, kaos ketat dengan gambar-gambar funky dan high heel yang semakin memperindah cara jalannya.
Beberapa waktu yang lalu, sakinah sempat curhat. “aku pingin pakai jilbab rek, pantes gak ya?” seolah melontar pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Teman yang usil menjawab dengan bercanda “yakin ta na, ntar jilbab kamu Cuma nutup seleher. Body masih dipamerkan pake baju super ketat gitu” selorohnya sambil diikuti gelak tawa beberapa teman yang sedang kumpul.
Segera si sakinah menepis ketus dan serius “jangan ngeledek dong, aku serius dan yakin”. Melihat kesungguhannya, kami segera mengubah formasi mimik wajah. Dukungan langsung bermunculan. Kami berkomitmen untuk menyumbangkan baju maupun jilbab seandainya sakinah berkenan. Namun dengan segera dia menolak halus “aku sudah punya tabungan teman2. Sudah kusiapkan dari lama”.
Subhanallah, kami dibuat bungkam dengan semangat dan keseriusan sakinah. Pandangan kami salah mengenai dia.tidak terbesit sedikipun di benak kami bahwa sakinah telah memeprsiapkan tabungan untuk menunjang penampilan barunya nanti. Mengingat selama ini, sakinah yang kami kenal adalah sosok yang modis dan trendy dengan baju-baju “gaul”nya.
 Dengan sigab masing-masing diantara kami memberi referensi toko busana muslim favorit. Dan sakinah menyambut dengan gembira. Sambil menutup deklarasi itu dengan komitmen langkah pertama “Aku akan memulainya ramadhan tahun ini, jadi masih ada 3 minggu lagi. semangaaat” dengan semangat seolah sedang berorasi, sakinah membuat kami semakin yakin akan niat baiknya.
Dan hari itu, adalah seminggu menjelang ramadhan. Sakinah tengah menambah koleksi busana muslimnya. Dari berita yang saya dengar, dia dalam perjalanan pulang dari sebuah mall bersama saudaranya. Gerimis yang tak henti-henti membuatnya memakai jas hujan. Naas nasibnya, ketika jas hujan model kelelawar nyantol di bak truk yang sedang dia salip. Dan terjadilah kecelakaan itu.
dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
seminggu lagi sakinah akan berjumpa dengan ramadhan nan suci. Seminggu lagi ia akan menutup auratnya dengan hijab sebagaimana islam memerintahkan. Hanya tinggal seminggu lagi. Namun apalah daya, jika Allah berkehendak lain. Ketika kematian di takdirkan Allah menjadi penutup kisah hidupnya.
Tentang sakinah ini, mengingatkan saya pada sebuah hadis rasul yang diriwayatkan oleh Bukhari muslim. Sebuah hadis yang mengisahkan tentang seorang yang mengaku telah membunuh 99 orang, kemudian niat bertaubat dan menemui seorang rahib. Ironinya, sang rahib menyatakan bahwa niat taubat si orang tersebut tidak bisa diterima. Alhasil, sang rahib pun menjadi korban ke 100.
Masih belum menyerah, sang pentaubat berusaha lagi menanyakan di mana ada orang paling alim. Betapa bahagia dia manakala orang alim yang didatangi menyatakan bahwa siapapun berhak bertaubat termasuk dia, bahkan selepas membunuh 100 orang. Dan ketika meninggal dalam perjalanan menuju tempat yang disarankan sang orang alim, ternyata Allah menerima taubatnya padahal belum satupun amal sholih dilakukan. Subhanallah, Maha Pengampun Allah.
Semoga sakinah termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat maghfiroh dari Allah, Mendapat ampunan atas khilaf membuka auratnya. Sementara dia meninggal dalam perjalanan berhijrah menuju syariat islam dalam berhijab. Bahwa dia berpulang dalam perjuangan mengumpulkan kepingan semangat yang pastinya tidak mudah. Semangat berubah ditengah liberalisme keluarganya.
Saudaraku,
Sesungguhnya kisah ini hanyalah secuil diantara kisah-kisah di sekitar kita. Betapa kematian datang tidak terduga. Kita tidak mampu berlari darinya. Apalagi menawar untuk penundaannya. Kisah sakinah yang berharap akan berjumpa dengan ramadhan tercinta untuk memulakan niat menutup auratnya ternyata dikehendaki Allah SWT dengan cara yang lain. Belum lagi jubah itu terkenakan, belum pula jilbab terjulurkan di tubuh, nyawa telah terpisah dari raga. Hanya atas kehendakNya.
Maka, jika diantara kita ada yang memiliki niat baik. Bersegeralah. Di bulan suci ini, jikalau ada kerabat atau sahabat yang pernah tersakiti oleh lisan kita, dan kita berniat meminta maaf. Tidak perlu menunggu idul fitri tiba, karena tidak ada yang menjamin akankah umur ini sampai pada hari nan fitri nanti.
Juga, jikalaupun ada yang sedang berjuang mendekati Allahu Rabbi, memohon ampunan atas segala khilaf, semoga Allah Yang Maha Suci menerima taubatnya dan taubat kita semua.
Dan saudaraku, yakinkan hati bahwa dalam kepastian takdir Allah selalu ada kasih sayang Allah untuk orang beriman. Teruslah  meminta agar Allah senantiasa menjaga kita dengan NurNya. Karena sesungguhnya, godaan dunia ini tak akan sanggup kita hindari tanpa petunjuk dari Nya. Wallau’alam bishawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar