"Katakanlah: Sesungguhnya
kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan
menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui
yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)
Sesungguhnya, Allah merahasiakan
waktu, tempat dan bagaimana cara manusia meninggal agar kita senantiasa bersiap
diri. Menjauhi maksiat sehingga jangan sampai meninggal dalam keadaan sedang
bermaksiat. Nauzubillah mindzalik. Sebuah kisah tentang betapa kematian datang
tiba-tiba dan tidak kenal usia, waktu dan tempat. Berharap kisah ini menjadi
pelajaran bagi kita semua, betapa pentingnya sikap berhati-hati dan senantiasa
memperbaiki diri.
Sore itu, gerimis tak kunjung reda
setelah turun 3 jam lamanya. Bayang-bayang akan dinginnya tubuh oleh air
gerimis tak mampu membendung semangat untuk segera pulang. Ada tugas kuliah
yang harus diselesaikan. Penatnya pikiran setelah seharian bekerja harus menyingkir
sejenak.
Niat untuk menggeber sepeda
sekencang mungkin sesaat tertunda. Manakala tiba-tiba terdengar bunyi sms
masuk. Innalillahi wa inna ilaihi
rajiuun, telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita sakinah. Semoga Allah
mengampuni dosanya, dan menerima segala amal baiknya. Aamiin. Demikian
sekelumit isi SMS yang menyesakkan dada.
Sesak di dada. Bagaimana tidak,
sakinah, teman kuliah yang siang tadi masih kontak dengan saya untuk menanyakan
perihal tugas kuliah yang harus diselesaikan. Sekarang sudah tiada?. “Ini pasti
mimpi” demikian pikir saya. Segera saya menghubungi teman yang kemungkinan bisa
memberi kepastian informasi. Terpaku lemas di atas motor manakala teman yang
saya hubungi mengiyakan kebenaran berita tersebut. Terlebih dia memberi penjelasan
singkat mengenai penyebab meninggalnya si sakinah.
Adalah sakinah, gadis cantik
berusia 20 an tahun. Sifatnya yang ceria dan selalu ramah membuatnya disukai
banyak teman. Secara fisik dan kepribadian, di mata kami, dia mendekati
sempurna. Hanya satu yang oleh dia sendiri diakui sebagai kekurangannya. Dia
belum berjilbab sesuai yang disyariatkan islam. Hobinya masih seputaran
bercelanan jins model pencil, kaos ketat dengan gambar-gambar funky dan high
heel yang semakin memperindah cara jalannya.
Beberapa waktu yang lalu,
sakinah sempat curhat. “aku pingin pakai jilbab rek, pantes gak ya?” seolah
melontar pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Teman yang usil menjawab dengan
bercanda “yakin ta na, ntar jilbab kamu Cuma nutup seleher. Body masih
dipamerkan pake baju super ketat gitu” selorohnya sambil diikuti gelak tawa
beberapa teman yang sedang kumpul.
Segera si sakinah menepis ketus
dan serius “jangan ngeledek dong, aku serius dan yakin”. Melihat
kesungguhannya, kami segera mengubah formasi mimik wajah. Dukungan langsung
bermunculan. Kami berkomitmen untuk menyumbangkan baju maupun jilbab seandainya
sakinah berkenan. Namun dengan segera dia menolak halus “aku sudah punya
tabungan teman2. Sudah kusiapkan dari lama”.
Subhanallah, kami dibuat bungkam
dengan semangat dan keseriusan sakinah. Pandangan kami salah mengenai dia.tidak
terbesit sedikipun di benak kami bahwa sakinah telah memeprsiapkan tabungan
untuk menunjang penampilan barunya nanti. Mengingat selama ini, sakinah yang kami
kenal adalah sosok yang modis dan trendy dengan baju-baju “gaul”nya.
Dengan sigab masing-masing diantara kami
memberi referensi toko busana muslim favorit. Dan sakinah menyambut dengan
gembira. Sambil menutup deklarasi itu dengan komitmen langkah pertama “Aku akan
memulainya ramadhan tahun ini, jadi masih ada 3 minggu lagi. semangaaat” dengan
semangat seolah sedang berorasi, sakinah membuat kami semakin yakin akan niat
baiknya.
Dan hari itu, adalah seminggu
menjelang ramadhan. Sakinah tengah menambah koleksi busana muslimnya. Dari berita
yang saya dengar, dia dalam perjalanan pulang dari sebuah mall bersama
saudaranya. Gerimis yang tak henti-henti membuatnya memakai jas hujan. Naas
nasibnya, ketika jas hujan model kelelawar nyantol di bak truk yang sedang dia
salip. Dan terjadilah kecelakaan itu.
dan
Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan
tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS, Luqman 31:34)
seminggu lagi sakinah akan
berjumpa dengan ramadhan nan suci. Seminggu lagi ia akan menutup auratnya
dengan hijab sebagaimana islam memerintahkan. Hanya tinggal seminggu lagi.
Namun apalah daya, jika Allah berkehendak lain. Ketika kematian di takdirkan
Allah menjadi penutup kisah hidupnya.
Tentang sakinah ini,
mengingatkan saya pada sebuah hadis rasul yang diriwayatkan oleh Bukhari muslim.
Sebuah hadis yang mengisahkan tentang seorang yang mengaku telah membunuh 99
orang, kemudian niat bertaubat dan menemui seorang rahib. Ironinya, sang rahib
menyatakan bahwa niat taubat si orang tersebut tidak bisa diterima. Alhasil,
sang rahib pun menjadi korban ke 100.
Masih belum menyerah, sang pentaubat
berusaha lagi menanyakan di mana ada orang paling alim. Betapa bahagia dia
manakala orang alim yang didatangi menyatakan bahwa siapapun berhak bertaubat
termasuk dia, bahkan selepas membunuh 100 orang. Dan ketika meninggal dalam
perjalanan menuju tempat yang disarankan sang orang alim, ternyata Allah
menerima taubatnya padahal belum satupun amal sholih dilakukan. Subhanallah,
Maha Pengampun Allah.
Semoga sakinah termasuk dalam
golongan orang-orang yang mendapat maghfiroh dari Allah, Mendapat ampunan atas
khilaf membuka auratnya. Sementara dia meninggal dalam perjalanan berhijrah menuju
syariat islam dalam berhijab. Bahwa dia berpulang dalam perjuangan mengumpulkan
kepingan semangat yang pastinya tidak mudah. Semangat berubah ditengah
liberalisme keluarganya.
Saudaraku,
Sesungguhnya kisah ini hanyalah
secuil diantara kisah-kisah di sekitar kita. Betapa kematian datang tidak
terduga. Kita tidak mampu berlari darinya. Apalagi menawar untuk penundaannya.
Kisah sakinah yang berharap akan berjumpa dengan ramadhan tercinta untuk
memulakan niat menutup auratnya ternyata dikehendaki Allah SWT dengan cara yang
lain. Belum lagi jubah itu terkenakan, belum pula jilbab terjulurkan di tubuh,
nyawa telah terpisah dari raga. Hanya atas kehendakNya.
Maka, jika diantara kita ada
yang memiliki niat baik. Bersegeralah. Di bulan suci ini, jikalau ada kerabat
atau sahabat yang pernah tersakiti oleh lisan kita, dan kita berniat meminta
maaf. Tidak perlu menunggu idul fitri tiba, karena tidak ada yang menjamin
akankah umur ini sampai pada hari nan fitri nanti.
Juga, jikalaupun ada yang sedang
berjuang mendekati Allahu Rabbi, memohon ampunan atas segala khilaf, semoga
Allah Yang Maha Suci menerima taubatnya dan taubat kita semua.
Dan saudaraku, yakinkan hati bahwa
dalam kepastian takdir Allah selalu ada kasih sayang Allah untuk orang beriman.
Teruslah meminta agar Allah senantiasa
menjaga kita dengan NurNya. Karena sesungguhnya, godaan dunia ini tak akan
sanggup kita hindari tanpa petunjuk dari Nya. Wallau’alam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar