Kelelahan fisik selepas menempuh puluhan
kilometer perjalanan seakan lunas terbayar oleh desir angin yang menyejukkan.
Beranda depan rumah menjadi pilihan saya
memanjakan jasad ini. Sekedar menikmati heningnya malam di pedesaan.
Dalam
nyamannya istirahat, sayup terdengar suara tangis. “seperti seorang perempuan
menangis, siapa ya?” Tanya saya dalam hati. Memenuhi hak hati yang tengah
penasaran, saya melangkah mencari asal suara. Semakin dekat mulai jelas apa
yang saya dengar. Dan memang benar, seorang nenek sedang berbincang dengan ibu
saya di beranda samping.
Mengetahui apa yang terjadi, membuat saya
beringsut pergi. Bukannya tidak penasaran, tapi lebih menjaga agar tidak di
sebut tukang turut campur. Ketika itu, sempat terdengar beberapa kali kalimat toyyibah terucap di sela tangis si nenek. “Alhamdulillahirobbil’alamin…..
matur nuwun nduk, Alhamdulillah, Allohuakbar..” demikian nenek berucap dengan
suara bergetar.
Adalah mbok Pa, seorang perempuan tua yang kami
kenal keisitiqomahan semangat ibadahnya. Bukan suatu kebetulan rumah mbok Pa
berada persis di tengah-tengah diantara dua mushollah. beliau tidak pernah
absen dari sholat berjamaah. Bahkan sebelum adzan di kumandangkan si nenek
sudah duduk manis dalam mushollah dengan tasbih tua kesayangannya. Subhanalloh…
Yang menarik adalah rutinitas si nenek yang
memberi “jatah” kehadiran untuk dua
mushollah. Untuk waktu subuh, dhuhur, dan ashar mbok Pa berjamaah dimushollah
Baitur Rahim 150 meter di barat rumah. Sedangkan maghrib dan isya’ insyaAlloh
bisa dipastikan beliau menghadiri sholat berjamaah di mushollah Nurul Aghfar,
100 meter perjalanan ke timur. “Biar adil nduk, mumpung isih urip” begitu ungkap beliau singkat manakala saya bertanya
alasan membagi jadwal. Sebuah syukur yang diwujudkan dalam indahnya ketaatan
pada Ilahi. Subhanalloh
Tidak hanya itu, keadaan fisik si nenek juga
membuat saya malu melihat semangat beliau. Tubuhnya yang renta sudah tidak
mampu berdiri dengan tegak. Dengan tertatih, beliau menuju mushollah dalam
posisi tubuh seperti orang sedang ruku’ dalam sholat. Ya… tubuhnya telah
bungkuk membentuk sudut 90 derajat. Subhanalloh… di antara kita, bahkan mungkin
ada yang urung berangkat sholat berjamaah lantaran capek sedikit.
Sebagian orang akan berpikir wajar jika si
nenek aktif ibadah walau dengan tubuh yang mengibakan hati. Karena usia beliau
yang sudah lanjut. Padahal tidak demikian, semangat si nenek ini sudah ada dari
dulu bahkan sebelum tubuhnya merapuh seperti sekarang. Maha Suci Alloh yang
memberikan keteguhan hati untuk si mbok istiqomah dalam ibadahnya.
Malam ini, saya sengaja menunggu diam di
beranda rumah. “mbok Pa kenapa tadi, buk? Kok nangis gitu?” segera saya
menghampiri ibu sesaat setelah si mbok meninggalkan rumah kami. Ibu pun
menjawab dengan santai bahwa keadaan itu sudah biasa. “biasa bagaimana?”
semakin penasaran saya mendesak ibu untuk cerita.
Dari cerita ibu, bertambah lagi catatan
mengagumkan tentang sosok mbok Pa di mata saya. Menurut ibu, si mbok terkenal
gampang menangis. Bukan karena kesulitan hidup atau derita dunia yang membuat
beliau menangis. Tapi rasa syukur dan bahagia yang justru memberai air mata
beliau.
Malam ini, kembali mbok Pa mengajari indahnya
syukur kepada saya dan kita semua. Betapa tidak, bagi sebagian orang barangkali
terasa biasa saja ketika semangkuk kolak disuguhkan manakala bertamu. Namun
tidak untuk si mbok, rasa syukur yang beliau wujudkan dalam untaian kalimat
toyyibah dan airmata bahagia itu adalah nyata dan tidak ada kesan di buat-buat.
Melihat berterimakasihnya mbok Pa menerima
sedikit makanan, barangkali ada yang berpikir si mbok hidup dalam kekurangan.
Tidak demikian nyatanya, karena mbok Pa adalah keluarga yang cukup secara financial dan senang
berbagi. Syukur yang beliau teladankan pada kita pada dasarnya merupakan
kewajiban bagi seorang hamba.
Jangankan semangkuk kolak, sebuah salam dan
jabat tangan yang kita berikan, insyaAlloh dibalas dengan ketulusan do’a yang
luar biasa “Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah.
Matur nuwun nduk,.. mugi-mugi barokah, sehat awak e, kuat atine ngedepi cubo, mung pasrah marang Alloh
ta’ala. Laa ilaaha illallah”. Beginilah si mbok akan menjawab salam kita. Jawaban yang
panjang dan kadang terkesan berlebihan. Tapi saya selalu menikmati ketulusan
doa beliau dan mengakhiri dengan Amiin Ya Rabb.
***
Dan Musa berkata: "Jika
kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah)
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji
(QS Ibrahim : 8).
Subhanalloh Alhamdulillah wa
Laa illaha illallah Allohuakbar. Allah Ar Rahim menciptakan kita dalam sebuah
kesempurnaan rencana. Tidak ada cacat atas takdir Allah Swt. Andaipun hari ini
tidak sesuai dengan perencanaan kita, sungguh nikmat sekarang ini adalah takdir
terbaik untuk kita. Syukurnya seorang hamba bukanlah kebutuhan Allah Al
Mutakabbir, justru kita yang lemah inilah sangat berkepentingan terhadap syukur
itu.
Menjadi
pribadi syukur butuh sebuah proses. Mulai dari menyadari siapa kita, dari apa
kita di ciptakan, untuk apa kita diciptakan hingga kepada siapa kita akan
dikembalikan.
Terlahir
dalam keadaan telanjang merupakan wujud kelemahan dan kefakiran kita. Kemudian
Alloh Swt memberikan rizki Nya melalui orang tua yang menafkahi kita. Dalam
perkembangan selanjutnya fisik kita di tumbuhkan kian kuat, akal kita di penuhi
dengan ilmu. Dan dengan keduanya kita berikhtiar memenuhi kebutuhan. Maka
ketika sekarang kita masih bisa bernafas, masih sehat, bisa bekerja, memiliki
keluarga yang barokah, maka nikmat Alloh
Swt manakah yang bisa kita dustakan (ingkari).
Semoga
kita, keluarga sejuk nurul hayat semua, di jadikan Alloh Swt dalam golongan
hamba yang bersyukur. Amin Yaa Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar