Adalah
lazim bagi kita mendengar keajaiban-keajaiban sedekah. Para ulama dan
orang-orang sholih menyampaikan betapa Allah SWT akan membalas sedekah dengan
sebaik-baik balasan. Satu di antara sekian ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan keutamaan sedekah adalah ayat
ke 261 di surat Al Baqoroh yang artinya“Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir:
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Ketika
dalam keadaan lapang, maka akan menjadi hal yang ‘biasa’ manakala sebagian
rizki tersalur untuk sedekah. Lain halnya jika kesempitan melanda dan sedekah
makin menambah. Belum lagi dihadapkan pada keadaan seolah sedekah tak
“berbuah”. Seperti yang dialami sepasang suami istri berikut. Bagaimana mereka
merasa ‘baik-baik’ saja padahal sedekah yang menjadi semangat hidup mereka kala
itu, seolah tak mampu mengubah takdir hidup mereka yang tetap meradang dalam
kesempitan bertahun-tahun.
Adalah
bu ami, ketika itu dia berprofesi sebagai buruh tani. Suaminya adalah kuli di
sebuah home industry. Kalaupun penghasilan mereka dikumpulkan, dalam sebulan
masih jauh di bawah karyawan industry atau pabrikan. Pendapatan itupun hanya
cukup untuk makan sehari-hari dan membayar beberapa kewajiban.
Sementara
itu, untuk biaya sekolah kedua anak yang tengah duduk di bangku SMP dan SMU,
mereka mengandalkan bantuan beasiswa untuk anak berprestasi dari keluarga tidak
mampu. Bersyukur kedua suami istri ini dikaruniai anak-anak yang cerdas. Dan
secara akademik selalu diatas rata-rata.
Sekilas,
kesederhanaan pasangan suami istri ini tak beda dengan kesederhanaan
keluarga-keluarga lainnya. Namun, ketika mengenal lebih dalam, kita akan dibuat
terperangah oleh gaya hidup mereka yang tidak biasa.
Di
lingkungan sekitarnya, bu ami di kenal sebagai wanita yang royal. Ia kerap
membagi-bagi makanan kepada tetangga dalam jumlah yang tidak sedikit. Makanan
yang di bagi pun tidak tanggung-tanggung dalam hal kualitas, kuantitas dan
intensitas. Dan bu ami memang memilih tetangga yang tidak mampu sebagai
prioritas pembagian makanan.
Sejenak
kita akan dibuat heran mengetahui hal itu, darimana beliau dapat uang untuk
berbagi makanan, sedangkan penghasilan telah habis untuk makan sederhana
sehari-hari. Tapi keheranan itu terjawab manakala kita melihat bu ami setiap
sore keliling berjualan kerupuk hasil gorengannya sendiri. Sebungkus di jual
500 rupiah. Kepingan rupiah itu ia
kumpulkan demi keinginan untuk bisa berbagi dengan tetangga yang kurang mampu.
Dalam
beberapa kesempatan, tak jarang bu ami dengan sengaja masak menu special hanya
untuk menyenangkan tetangganya yang tampak kekurangan dalam hal kebutuhan
pangan. Kontan hal ini membuat para tetangga menjadi sangat bahagia manakala
menerimanya.
Di
balik senyum bahagia para tetangga penerima sedekah dari bu ami, ada pula
komentar yang menyesakkan kalau di turuti. Bagaimana tidak, entah muncul ide
dari mana, beberapa tetangga menyusun opini bahwa bu ami hanya cari muka dan
pura-pura baik. Tak jarang pula pendapat
bahwa bu ami sedang menyombongkan diri.
Manakala
bu ami tidak menanggapi, dan hanya menebar senyum sembari mengatakan bahwa yang
dia lakukan semata karena ingin membahagiakan saudara sebisanya, masih ada pula
yang meremehkan kecintaan sedekah bu ami
dan keluarga. Belum lagi komentar menggelikan yang muncul dengan mengatakan
bahwa sedekah bu ami tidak diterima oleh Allah SWT, buktinya adalah keluarga bu
ami masih meradang dalam keterbatasan ekonomi yang lemah.
Bukannya berkecil hati, bu ami justru
semakin menyenangi aktifitasnya. Suatu ketika ia berujar “balasan terbaik dari
Allah, saya mampunya sedekah dengan cara begini, maka saya lakukan sebisa saya.
Urusan bagaimana kehidupan duniawi saya, pastinya hanya Allah Yang Maha
mencukupi”
Benar memang, bahwa Allah akan membalas
setiap sedekah. Tapi tentang apa dan bagaimana bentuk balasan dari Allah, bukan kita yang bisa
mengatur. Tidak selalu balasan itu berupa pengembalian materi dunia yang
melimpah, tidak pula selalu berupa harta.
balasan sedekah bisa berupa kebahagiaan batin yang tak terbeli oleh
apapun, bisa pula berupa keberkahan umur yang terwujud dalam nikmatnya iman dan
ketaatan. Terlebih pastinya balasan itu kita harapkan berupa pertolongan Allah
yang sangat kita butuhkan kelak di yaumul hisab. Demikian kira-kira pentafsiran
dari penggalan kalimat bu ami.
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di
jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai
hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan
orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat,
yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika
ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu
sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
Bahkan, sebelum hari pembalasan, sedekah
telah mampu memberi manfaat yang luar biasa bagi mukmin yang melakukannya
ikhlas karena Allah ta’ala. Yaitu ketika mukmin tersebut berada di alam barzah
menanti saat dibangkitkan di hari akhir nanti. “Sedekah
akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani,
di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873). Subhanallah, masihkah ada
alasan untuk meremehkan sedekah?
Maka, dengan
berpegang pada penjelasan hadis-hadis di atas, dan beberapa hadis lain yang
senada, bu ami tetap mejaga semangat bersedakahnya. Kendati pendapatan tak jua
membaik dan roda ekonomi seolah enggan berputar. Sedekah tetap mengalir walaupun
cibiran tak jua berhenti dari para pemilik hati yang iri.
Dan kini,
anak-anak bu ami telah beranjak dewasa. Masing-masing sudah berkeluarga. Dan
memiliki kehidupan yang mapan. Bu ami dan suaminya tinggal menikmati masa tua
dengan tenang. Para tetangga menilai betapa beruntungnya bu ami, memiliki
anak-anak yang berbakti, tetap peduli dan sangat menghormati orang tua meski sudah berkeluarga. Sementara
ada diantara para tetangga tersebut yang mengalami sebaliknya, dimana masa tua
harus berjibaku dengan bentakan anak-anaknya yang dulu pernah bermanja dalam
dekapan sang bunda.
Barangkali,
Allah SWT mencairkan sebagian kebaikan sedekah bu ami dalam wujud anak-anak
yang sholih dan menentramkan hati. Maka, hanya dari Allah sebaik-baik dan
seadil-adil balasan atas segala amal kita. Berkhusnuzon kepada Allah SWT adalah
pilihan terbaik bagi orang yang beriman. Wallahu’alam bish showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar