Kamis, 01 Agustus 2013

Iqro' Agustus 2013 : Berbekal Khusnudzon


                Adalah lazim bagi kita mendengar keajaiban-keajaiban sedekah. Para ulama dan orang-orang sholih menyampaikan betapa Allah SWT akan membalas sedekah dengan sebaik-baik balasan. Satu di antara sekian ayat dalam Al Qur’an  yang menjelaskan keutamaan sedekah adalah ayat ke 261 di surat Al Baqoroh yang artinya“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
                Ketika dalam keadaan lapang, maka akan menjadi hal yang ‘biasa’ manakala sebagian rizki tersalur untuk sedekah. Lain halnya jika kesempitan melanda dan sedekah makin menambah. Belum lagi dihadapkan pada keadaan seolah sedekah tak “berbuah”. Seperti yang dialami sepasang suami istri berikut. Bagaimana mereka merasa ‘baik-baik’ saja padahal sedekah yang menjadi semangat hidup mereka kala itu, seolah tak mampu mengubah takdir hidup mereka yang tetap meradang dalam kesempitan bertahun-tahun.
                Adalah bu ami, ketika itu dia berprofesi sebagai buruh tani. Suaminya adalah kuli di sebuah home industry. Kalaupun penghasilan mereka dikumpulkan, dalam sebulan masih jauh di bawah karyawan industry atau pabrikan. Pendapatan itupun hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar beberapa kewajiban.
                Sementara itu, untuk biaya sekolah kedua anak yang tengah duduk di bangku SMP dan SMU, mereka mengandalkan bantuan beasiswa untuk anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Bersyukur kedua suami istri ini dikaruniai anak-anak yang cerdas. Dan secara akademik selalu diatas rata-rata.
Sekilas, kesederhanaan pasangan suami istri ini tak beda dengan kesederhanaan keluarga-keluarga lainnya. Namun, ketika mengenal lebih dalam, kita akan dibuat terperangah oleh gaya hidup mereka yang tidak biasa.
Di lingkungan sekitarnya, bu ami di kenal sebagai wanita yang royal. Ia kerap membagi-bagi makanan kepada tetangga dalam jumlah yang tidak sedikit. Makanan yang di bagi pun tidak tanggung-tanggung dalam hal kualitas, kuantitas dan intensitas. Dan bu ami memang memilih tetangga yang tidak mampu sebagai prioritas pembagian makanan.
Sejenak kita akan dibuat heran mengetahui hal itu, darimana beliau dapat uang untuk berbagi makanan, sedangkan penghasilan telah habis untuk makan sederhana sehari-hari. Tapi keheranan itu terjawab manakala kita melihat bu ami setiap sore keliling berjualan kerupuk hasil gorengannya sendiri. Sebungkus di jual 500 rupiah. Kepingan rupiah  itu ia kumpulkan demi keinginan untuk bisa berbagi dengan tetangga yang kurang mampu.
Dalam beberapa kesempatan, tak jarang bu ami dengan sengaja masak menu special hanya untuk menyenangkan tetangganya yang tampak kekurangan dalam hal kebutuhan pangan. Kontan hal ini membuat para tetangga menjadi sangat bahagia manakala menerimanya.
Di balik senyum bahagia para tetangga penerima sedekah dari bu ami, ada pula komentar yang menyesakkan kalau di turuti. Bagaimana tidak, entah muncul ide dari mana, beberapa tetangga menyusun opini bahwa bu ami hanya cari muka dan pura-pura baik.  Tak jarang pula pendapat bahwa bu ami sedang menyombongkan diri.
Manakala bu ami tidak menanggapi, dan hanya menebar senyum sembari mengatakan bahwa yang dia lakukan semata karena ingin membahagiakan saudara sebisanya, masih ada pula yang  meremehkan kecintaan sedekah bu ami dan keluarga. Belum lagi komentar menggelikan yang muncul dengan mengatakan bahwa sedekah bu ami tidak diterima oleh Allah SWT, buktinya adalah keluarga bu ami masih meradang dalam keterbatasan ekonomi yang lemah.
Bukannya berkecil hati, bu ami justru semakin menyenangi aktifitasnya. Suatu ketika ia berujar “balasan terbaik dari Allah, saya mampunya sedekah dengan cara begini, maka saya lakukan sebisa saya. Urusan bagaimana kehidupan duniawi saya, pastinya hanya Allah Yang Maha mencukupi”
Benar memang, bahwa Allah akan membalas setiap sedekah. Tapi tentang apa dan bagaimana bentuk  balasan dari Allah, bukan kita yang bisa mengatur. Tidak selalu balasan itu berupa pengembalian materi dunia yang melimpah, tidak pula selalu berupa harta.  balasan sedekah bisa berupa kebahagiaan batin yang tak terbeli oleh apapun, bisa pula berupa keberkahan umur yang terwujud dalam nikmatnya iman dan ketaatan. Terlebih pastinya balasan itu kita harapkan berupa pertolongan Allah yang sangat kita butuhkan kelak di yaumul hisab. Demikian kira-kira pentafsiran dari penggalan kalimat bu ami.
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
Bahkan, sebelum hari pembalasan, sedekah telah mampu memberi manfaat yang luar biasa bagi mukmin yang melakukannya ikhlas karena Allah ta’ala. Yaitu ketika mukmin tersebut berada di alam barzah menanti saat dibangkitkan di hari akhir nanti. “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873). Subhanallah, masihkah ada alasan untuk meremehkan sedekah?
Maka, dengan berpegang pada penjelasan hadis-hadis di atas, dan beberapa hadis lain yang senada, bu ami tetap mejaga semangat bersedakahnya. Kendati pendapatan tak jua membaik dan roda ekonomi seolah enggan berputar. Sedekah tetap mengalir walaupun cibiran tak jua berhenti dari para pemilik hati yang iri.
Dan kini, anak-anak bu ami telah beranjak dewasa. Masing-masing sudah berkeluarga. Dan memiliki kehidupan yang mapan. Bu ami dan suaminya tinggal menikmati masa tua dengan tenang. Para tetangga menilai betapa beruntungnya bu ami, memiliki anak-anak yang berbakti, tetap peduli dan sangat menghormati  orang tua meski sudah berkeluarga. Sementara ada diantara para tetangga tersebut yang mengalami sebaliknya, dimana masa tua harus berjibaku dengan bentakan anak-anaknya yang dulu pernah bermanja dalam dekapan sang bunda.

Barangkali, Allah SWT mencairkan sebagian kebaikan sedekah bu ami dalam wujud anak-anak yang sholih dan menentramkan hati. Maka, hanya dari Allah sebaik-baik dan seadil-adil balasan atas segala amal kita. Berkhusnuzon kepada Allah SWT adalah pilihan terbaik bagi orang yang beriman.  Wallahu’alam bish showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar