Sabtu, 01 Juni 2013

Iqro Juni 2013 : Di Ujung Penantian



Rasulullah Mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. ( HR.Ahmad)
Betapa bahagia apabila kita menjadi bagian orang-orang mukim yang dikagumi Rasululloh saw. Manusia mulia sebaik-baik teladan sepanjang masa dalam hal keindahan cara bersyukur maupun kerendahan hati  dalam bersabar. Alangkah beruntungnya orang-orang yang mampu meneladani akhlak Rasul yang mulia. Tentu semangat ini ada di hati kita semua sebagai umat beliau.
Di antara jutaan umat rasululloh saw yang tiada putus asa berjuang meneladani beliau, ada seorang wanita luar biasa yang saya kenal. Nur ziadatul ilmiah namanya. Dia adalah sahabat karib saya semenjak kelas 1 SD. Kecintaan nya pada baginda rasululloh kerap membuat saya kagum sampai merasa “iri”. Betapa Allah memberikan karunia yang indah untuknya.
Zida, demikian saya akrab memanggilnya. Nama ini bukan nama yang diberikan orang tuanya semenjak lahir. Melainkan nama pemberian kyai nya sewaktu zida mondok di sebuah pesantren. Menurut pak Yai, nama ini lebih cocok untuknya yang sangat semangat menuntut ilmu.  Enam tahun dilalui zida di sebuah pesantren di pelosok jawa timur. Hingga suatu hari dia pamit “boyong” – (pulang tidak kembali) karena di minta oleh ibunya.
Berat bagi zida untuk meninggalkan pondok. Apalagi saat itu kepulangannya untuk menerima pinangan dari seorang pemuda. Tidak pernah terpikir olehnya menikah di usia belasan tahun. Namun, kepatuhannya pada sang ibu, menjadikan kegelisahannya  tersimpan rapat-rapat di lubuk hati yang paling dalam. Tak seorang pun ia beri tahu, kecuali saya.
Tepat di usia 19 tahun, zida menikah dengan seorang pemuda satu desa. Seminggu sekali setidaknya saya  silaturrahim sekedar menanyakan kabarnya dan menghibur kesendiriannya di tinggal suami bekerja. Bulan pertama pernikahan berlalu begitu indah. Tampak rona wajah kebahagiaan selalu menyembul manakala saya bersua. Hingga bulan ke empat, entah mengapa keadaan mulai berubah. Wajahnya tak seceria dulu, ceritanya mulai di hiasi dengan tangis.
Menginjak bulan ke tujuh, saya semakin bingung mendengar sedu sedan cerita zida yang menghiasai pertemuan kami. Dari penuturannya, sang suami mulai main pukul. Terjadi beda pedapat sedikit tamparan melayang. Ketika suami emosi, apapun yang dilakukan zida pasti salah. Diam salah, berkomentarpun lebih salah. Tak ayal, saya benar melihat pipi dan beberapa bagian tubuh lain tampak lebam oleh pukulan.
Dengan pemikiran yang kurang dewasa, saya menyarankan agar zida minta cerai saja. Namun apa jawabnya, “Aku tidak akan minta cerai, Allah dan rasulNya tidak menyukai perceraian. Aku yakin, Allah tidak akan membiarkanku sendiri” begitu selalu jawabnya. Sungguh saya melihat ketulusan dari jawabannya. Dan tidak habis pikir betapa tidak punya hatinya si suami zida, main pukul sementara kondisi istri sedang hamil muda.
Beberapa bulan kemudian, zida melahirkan seorang bayi perempuan. Diberilah nama NALA yang menurut dia artinya jantung hati. Diantara sekian ujian yang menghempas ke arahnya, masih ada yang selalu dia temukan untuk di syukuri. Hari demi hari dilalui dengan ketegaran yang luar biasa. Suami yang suka main pukul tidak lagi mampu menggoyahkan kebahagiaan zida. Keadaan ekonomi yang tiba-tiba merosot manakala suami kena PHK, juga tak mengurangi rasa syukurnya. Dengan mengambil pekerjaan borongan mengikat plastic krupuk, zida menjaga nala sambil bekerja di rumah.
Pertikaian dengan suami mencapai puncak, manakala si kecil menjadi sasaran amuk sang suami. Dengan segenap keberanian yang tersisa, zida akhirnya minta cerai. Bagi dia, tidak mengapa jika tubuhnya remuk redam oleh hajaran suami, tapi tidak dengan anaknya. Al hasil mereka bercerai di usia pernikahan yang baru menginjak pertengahan tahun ke dua.
Dalam kesendirian sebagai single parent, zida bekerja seadanya. Pagi masih mengambil kerjaan borongan dengan pendapatan 5 ribu sehari, sorenya dia mengajar ngaji di TPQ. Kesabarannya yang luar biasa membuatnya tampak terlihat ceria seolah tidak ada masalah yang membelit.
Tiga tahun berlalu, Allah kemudian mengirimkan pertolongannya. Seorang pria dating melamar zida melalui ta’aruf pihak ke tiga. Pernikahanpun berlangsung dengan sederhana, mengingat calon suami zida adalah duda dengan dua anak. Hari berlanjut dimana zida kini merawat 3 anak sekaligus. Guratan-guratan lelah diwajahnya mulai tampak, tapi tersembunyi di balik senyumnya. Lagi-lagi rasa syukur zida akan karunia Sang Khalik selalu dan selalu ada dalam kondisi apapun.
Hari berlalu, bulan berganti. Belum melampaui tahun pertama pernikahan, kembali zida di hempas oleh ujian dahsyat. Suami ke duanya meninggal secara tiba-tiba. Karena sebuah sakit yang disembunyikan oleh sang suami. Belum lagi, keluarga besar pihak suami menggunggat rumah yang ditinggali zida sebagai hak waris anak-anak suaminya. Dengan pasrah zida melepas kepergian suami, dan mengembalikan harta benda yang di minta keluarga, tak menyisakan sedikitpun.
Saya, ketika itu hanya tertegun melihat kesabarannya. Zida masih bisa tersenyum mengucapkan terima kasih pada pentakziyah, juga minta maaf pada keluarga  karena merasa tidak bisa menjaga suaminya dengan baik. Subhanallah, ingin menghambur keluar sebanyak mungkin air mata ini, tapi malu jika melihat mata zida kering karena air mata ia sembunyikan dalam kesendirian.
Dalam hati saya ber do’a, semoga Allah menghadiahi sebaik-baik balasan untuk kesabaran yang dimiliki wanita itu. Sebagaimana Allah berjanji “…Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Aamiin.
Kembali dalam sendiri. Zida dan si kecil nala yang berusia hampir empat tahun, melanjutkan takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk mereka. Karena kebutuhan hidup semakin meningkat, pilihan sebagai pekerja borngan pabrik plastic harus ditinggalkan zida. Dia kemudian memilih menjadi buruh pabrik benang. Dengan penghasilan 25 ribu sehari. Cukup untuk makan dan jajan nala. Serta persiapan masuk sekolah.
Setiap kali bertemu dengannya, saya tidak pernah mendengar zida berkeluh kesah. Yagn ada hanya cerita betapa nala berkembang jadi anak cerdas. Dan cerita-cerita bahagian lainnya. Seolah goresan kisah masa lalunya hanya mimpi.
Dua tahun sepeninggal suami ke duanya, saya mendapat kabar gembira.ada seorang pria kembali dating meminang zida. Kali ini kabar agak terlambat saya terima. Karena kesibukan, bahkan saya tidak sempat menghadiri pernikahannya. Juga belum sempat bertemu dengan zida dan suaminya.
Dari kabar yang santer terdengar, suami ke tiga zida adalah seorang pengusaha. Dengan kehidupa ekonomi yang mapan dan hanya punya satu anak. Zida menghilang mengikuti domisili suami. Dia menghilang tanpa jejak. Seolah enggan masa lalu mengikutinya. Seolah ingin ia tinggalkan perih yang selama ini menggelayut di bahunya.
Selamat jalan zida, selamat menempuh hidup baru. Semoga keluarga yang engkau bentuk kali ini, sakinah mawaddah warrahmah hingga akhir hayat. Penantianmu akan janji Allah barangkali kini telah sampai. Kesabaranmu yang selalu engkau ajarkan pada ku tak akan aku lupakan.
Saudaraku, kisah zida hanya sekelumit diantara rangkaian takdir Allah di bumi ini. Semoga pelajaran yang diberikan oleh sahabat saya dalam kisah ini, menjadi pelajaran berharga juga untuk kita semua. Tanpa kita harus melampui getir takdir sebagaimana yang dilampui zida. Mohon do’anya juga, semoga sahabat saya ini menemukan kebahaigaan di ujung penantian dia selama ini. Dan semoga kita, diberi kekuatan untuk bersyukur dan keikhlasan untuk bersabar atas segala takdir Allah. Wallahu’alam bishowab.
“Sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar