Rabu, 15 Mei 2013

Iqro Mei 2013 : Keajaiban dalam Tawakkal



Ba’da sholat subuh di Masjidil Haram. Sedang menikmati ayat demi ayat dalam al quran sambil berselimut sajadah demi menghalau dingin. Saya dikejutkan tepukan ringan di bahu, berasal dari seseorang di balik pilar masjid. Sesaat kemudian tersembul senyum seorang wanita 60 an tahun. Sambil memberi isyarat salam, beliau bertanya lirih “ada air? ” Segera saya mengeluarkan botol besar berisi air, menuangkan separuhnya ke botol beliau. Lebih dari cukup untuk sekedar minum. Agak terkejut ketika ternyata air tersebut digunakan untuk berwudhu. Kenapa beliau tidak pergi ke tempat wudhu saja, begitu pensaran dalam hati saya.
Sepertinya si ibu memahami pertanyaan yang berkecamuk di benak saya.
“saya sakit, kaki saya setengah lumpuh”, ungkap beliau dengan logat melayu sambil menyungging senyum. Senyuman yang agak getir seperti berusaha tegar atas ujian yang diterimanya. Selanjutnya, sepatah demi sepatah kalimat dirangkai dalam bahasa yang sangat tenang. Tampak betul betapa bersahaja nya ibu di hadapan saya ini. Saya yakin, saya akan mendapat banyak hikmah dari beliau. Maka dengan seksama saya mendengarkan bak murid menerima wejangan sang guru.
Tidak terasa lebih dari 30 menit saya menyimak kisah ibu yang akhirnya saya mengenalnya bernama khadijah. Ibunya dari Malaysia dan ayahnya dari arab. Sejak kecil tinggal di arab Saudi beserta enam saudaranya.
Dari sekian panjang cerita yang beliau tuturkan, ada satu kisah yang menarik perhatian saya. Tentang sakit beliau sekarang. Dua tahun lalu beliau pernah terjatuh yang berakibat sekujur tubuhnya lumpuh. Keadaan membuat beliau harus terbaring di rumah sakit tanpa bisa berbuat apa-apa. Saudara-saudara lah yang merawatnya, karena beliau tidak punya suami ataupun anak. Dalam kurun waktu dua bulan lebih, tidak ada perubahan signifikan atas perbaikan kondisinya. Dengan sedikit memaksa, bu khadijah minta di pulangkan dari rumah sakit. Bagi beliau lebih nyaman sakit di rumah, di tengah keluarga.
Pada kondisi demikian, sebagian orang mungkin akan berputus asa. Lalu berkeluh kesah. Hilang syukur. Bahkan sampai mempertanyakan keadilan dan pertolongan Allah. Padahal sakit yang dideritanya mungkin saja tak separah ibu yang sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan ini.
Saya melihat Ibu khadijah berbeda. Allah berikan kekuatan kepada beliau untuk bersabar dengan ujian yang menurut saya sangat berat. Tak punya suami, tak punya anak, adalah ujian ekstra tersendiri. Ditambah di usia senjanya Allah tambah ujian lagi berupa sakit sekujur tubuh kaku tak bisa digerakkan.
Tapi dengarkanlah curahan hati beliau : "Ujian ini saya alami, karena mungkin seperti apa yang pernah disampaikan Rosululloh, bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan untuk kita“. Belakangan saya temukan hadist tersebut diriwayatkan oleh imam bukhori. Persisnya, Nabi pernah bersabda : "Barang siapa yang Allah SWTkebaikan padanya, maka Allah akan memberikan musibah sebagai ujiannya
Begitu yakin akan ketetapan Allah, sepulang dari rumah sakit, Bu khadijah melanjutkan hidupnya dengan semakin mendekat pada Allah Azza Wa Jalla. Dzat yang diyakininya sebagai satu-satunya tempat mengadu dan pemberi jalan keluar. Hari demi hari dilalui dengan dzikir. Untuk sholat, beliau dibantu saudara-saudaranya bertayamum dan menutupkan auratnya. Walau hanya isyarat mata yang bisa dilakukan, tapi tak satupun waktu sholat ditinggalkan.
Bagi bu kahdijah, sakit yang dialaminya itu adalah penebus dosa yang mungkin tidak bisa terhapus dengan istighfar ataupun sholat. Bukankah Allah tidak pernah memberi sakit dan lain-lainnya pada seorang hamba, kecuali akan ada dosa yang dihapus, jika hamba tersebut bersabar. Saya jadi teringat dengan sebuah sabda nabi :
Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim, penyakit, kesedihan, kepiluan dan luka, yang diterima dengan penuh kesabaran, melainkan menjadi kifarat atas dosa dan kesalahannya, walaupun hanya tertusuk sepotong duri sekalipun. (HR Bukhori – No 1949)
“kesabaran menjadi hal yang wajib saya jaga semasa sakit. Agar tidak sia-sia hari-hari yang terlampaui” tutur beliau dengan logat Malaysianya. Air muka ketegarannya tampak jujur, tak dibuat-buat. mendengar dan menatap wajah teduh beliau hati saya bergerimis. Kagum bercampur terharu.
Sebuah totalitas kepasrahan tingkat tinggi. Walaupun tim dokter sudah menyatakan minimnya prosentase kesembuhan, bu khadijah dan keluarga tetap menggantungkan harapan pada Pemilik kehidupan ini, Allah SWT.
Minggu berlalu, bulan berganti. Hingga  menginjak tahun ke dua belum ada perkembangan, tim medis akhirnya angkat tangan. Tetapi tidak demikian dengan bu khadijah. Terapi stimulus tetap dilanjutkan di rumah dengan bantuan saudara. Tetapi di tahun ke dua tersebut, bu khadijah sudah tidak mau dibantu tayamum. Beliau maunya dibantu wudhu. Terapi menggunakan air wudhu.
Subhanallah, allahuakbar. Terapi lanjutan pelan-pelan menunjukkan hasil. Berawal dari suatu pagi menjelang subuh, bu khadijah bisa merasakan dinginnya air yang dibasuhkan ke kakinya. Keadaan semakin membaik dengan mulai bergeraknya ibu jari kaki dan tangan. Hingga setahun kemudian tinggal sebelah kaki yang masih lemah untuk bergerak. Bu Khadijah begitu bersyukur. Janji Allah tak pernah diingkari. Seorang hamba yang bersabar dan tak putus asa, pasti akan ditolongNya.
Memang masih ada satu bagian kaki yang tak bisa digerakkan. Tapi hal itu tak mengurangi rasa syukurnya kepada Allah. Dalam kondisi  cara jalan terseok-seok dan menyeret-nyeret kaki itu, beliau ungkapkan rasa syukurnya dengan semangat datang ke masjid. Berapa jarak ke masjid? Sekitar setengah kilometer jarak rumahnya ke masjid. Subhanallah..dan luar biasanya, beliau lakukan setiap hari. 
“sudah sangat lama tidak ke masjid, sangat rindu rasanya” demikian beliau mengungkapkan. Kali ini mata beliau saya lihat berkaca-kaca. Hatinya mungkin sedang berkecamuk antara beratnya menahan ujian dan bersyukur masih diberikan hidayah iman dan ketakwaan oleh Allah. Saya seperti diingatkan untuk mengukur diri. Tertunduk. Malu rasanya, mengingat hati ini belum terpaut dengan masjid seindah tautan hati bu khadijah dengan masjid tercinta.
Pagi itu, saya diajarkan sebuah pelajaran hidup yang luar biasa. Tentang ikhtiar tiada putus asa dan menggantungkan harapan hanya pada Allah Yang Maha Kuasa. Bahwa jika ditimpa musibah harus dihadapi dengan sabar yang tiada batas. Bahwa ketika musibah itu datang justru harus semakin kencang lari kita untuk mendekat kepada Allah. Karena Dialah yang Maha Pemberi Harapan dan Pertolongan ketika para makhluknya yang lemah tak sanggup memberi pertolongan. Dan Dialah Allah, dzat yang tak pernah mengingkari janji-Nya untuk memberikan pertolongan kepada hambaNya yang sabar. Allah berfirman : Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS Ali-Imron: 160)
Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, bersabar memang tidak mudah. Maka ketika hati mulai tergelitik untuk mengeluh dan berhenti bersabar atas ujian, berdoalah. Mintalah kepada Sang Pemilik Hati kita karunia kesabaran itu. Wallahu A’lam Bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar