Ba’da sholat subuh di Masjidil Haram. Sedang menikmati ayat
demi ayat dalam al quran sambil berselimut sajadah demi menghalau dingin. Saya
dikejutkan tepukan ringan di bahu, berasal dari seseorang di balik pilar
masjid. Sesaat kemudian tersembul senyum seorang wanita 60 an tahun. Sambil
memberi isyarat salam, beliau bertanya lirih “ada air? ” Segera saya
mengeluarkan botol besar berisi air, menuangkan separuhnya ke botol beliau. Lebih
dari cukup untuk sekedar minum. Agak terkejut ketika ternyata air tersebut
digunakan untuk berwudhu. Kenapa beliau tidak pergi ke tempat wudhu saja,
begitu pensaran dalam hati saya.
Sepertinya si ibu memahami pertanyaan yang berkecamuk di
benak saya.
“saya sakit, kaki saya setengah lumpuh”, ungkap beliau
dengan logat melayu sambil menyungging senyum. Senyuman yang agak getir seperti
berusaha tegar atas ujian yang diterimanya. Selanjutnya, sepatah demi sepatah
kalimat dirangkai dalam bahasa yang sangat tenang. Tampak betul betapa
bersahaja nya ibu di hadapan saya ini. Saya yakin, saya akan mendapat banyak
hikmah dari beliau. Maka dengan seksama saya mendengarkan bak murid menerima
wejangan sang guru.
Tidak terasa lebih dari 30 menit saya menyimak kisah ibu
yang akhirnya saya mengenalnya bernama khadijah. Ibunya dari Malaysia dan
ayahnya dari arab. Sejak kecil tinggal di arab Saudi beserta enam saudaranya.
Dari sekian panjang cerita yang beliau tuturkan, ada satu
kisah yang menarik perhatian saya. Tentang sakit beliau sekarang. Dua tahun
lalu beliau pernah terjatuh yang berakibat sekujur tubuhnya lumpuh. Keadaan
membuat beliau harus terbaring di rumah sakit tanpa bisa berbuat apa-apa.
Saudara-saudara lah yang merawatnya, karena beliau tidak punya suami ataupun
anak. Dalam kurun waktu dua bulan lebih, tidak ada perubahan signifikan atas
perbaikan kondisinya. Dengan sedikit memaksa, bu khadijah minta di pulangkan
dari rumah sakit. Bagi beliau lebih nyaman sakit di rumah, di tengah keluarga.
Pada kondisi demikian, sebagian orang mungkin akan berputus
asa. Lalu berkeluh kesah. Hilang syukur. Bahkan sampai mempertanyakan keadilan
dan pertolongan Allah. Padahal sakit yang dideritanya mungkin saja tak separah
ibu yang sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan ini.
Saya melihat Ibu khadijah berbeda. Allah berikan kekuatan
kepada beliau untuk bersabar dengan ujian yang menurut saya sangat berat. Tak
punya suami, tak punya anak, adalah ujian ekstra tersendiri. Ditambah di usia
senjanya Allah tambah ujian lagi berupa sakit sekujur tubuh kaku tak bisa
digerakkan.
Tapi dengarkanlah curahan hati beliau : "Ujian ini saya
alami, karena mungkin seperti apa yang pernah disampaikan Rosululloh, bahwa
Allah sedang menghendaki kebaikan untuk kita“. Belakangan saya temukan hadist
tersebut diriwayatkan oleh imam bukhori. Persisnya, Nabi pernah bersabda : "Barang siapa yang Allah SWTkebaikan padanya,
maka Allah akan memberikan musibah sebagai ujiannya”
Begitu yakin akan ketetapan Allah, sepulang dari rumah
sakit, Bu khadijah melanjutkan hidupnya dengan semakin mendekat pada Allah Azza
Wa Jalla. Dzat yang diyakininya sebagai satu-satunya tempat mengadu dan pemberi
jalan keluar. Hari demi hari dilalui dengan dzikir. Untuk sholat, beliau
dibantu saudara-saudaranya bertayamum dan menutupkan auratnya. Walau hanya
isyarat mata yang bisa dilakukan, tapi tak satupun waktu sholat ditinggalkan.
Bagi bu kahdijah, sakit yang dialaminya itu adalah penebus
dosa yang mungkin tidak bisa terhapus dengan istighfar ataupun sholat. Bukankah
Allah tidak pernah memberi sakit dan lain-lainnya pada seorang hamba, kecuali
akan ada dosa yang dihapus, jika hamba tersebut bersabar. Saya jadi teringat
dengan sebuah sabda nabi :
Tidak ada musibah yang
menimpa seorang muslim, penyakit, kesedihan, kepiluan dan luka, yang diterima
dengan penuh kesabaran, melainkan menjadi kifarat atas dosa dan kesalahannya,
walaupun hanya tertusuk sepotong duri sekalipun. (HR Bukhori – No 1949)
“kesabaran menjadi hal yang wajib saya jaga semasa sakit.
Agar tidak sia-sia hari-hari yang terlampaui” tutur beliau dengan logat
Malaysianya. Air muka ketegarannya tampak jujur, tak dibuat-buat. mendengar dan
menatap wajah teduh beliau hati saya bergerimis. Kagum bercampur terharu.
Sebuah totalitas kepasrahan tingkat tinggi. Walaupun tim
dokter sudah menyatakan minimnya prosentase kesembuhan, bu khadijah dan
keluarga tetap menggantungkan harapan pada Pemilik kehidupan ini, Allah SWT.
Minggu berlalu, bulan berganti. Hingga menginjak tahun ke dua belum ada
perkembangan, tim medis akhirnya angkat tangan. Tetapi tidak demikian dengan bu
khadijah. Terapi stimulus tetap dilanjutkan di rumah dengan bantuan saudara.
Tetapi di tahun ke dua tersebut, bu khadijah sudah tidak mau dibantu tayamum.
Beliau maunya dibantu wudhu. Terapi menggunakan air wudhu.
Subhanallah, allahuakbar. Terapi lanjutan pelan-pelan
menunjukkan hasil. Berawal dari suatu pagi menjelang subuh, bu khadijah bisa
merasakan dinginnya air yang dibasuhkan ke kakinya. Keadaan semakin membaik
dengan mulai bergeraknya ibu jari kaki dan tangan. Hingga setahun kemudian
tinggal sebelah kaki yang masih lemah untuk bergerak. Bu Khadijah begitu
bersyukur. Janji Allah tak pernah diingkari. Seorang hamba yang bersabar dan
tak putus asa, pasti akan ditolongNya.
Memang masih ada satu bagian kaki yang tak bisa digerakkan.
Tapi hal itu tak mengurangi rasa syukurnya kepada Allah. Dalam kondisi cara jalan terseok-seok dan menyeret-nyeret
kaki itu, beliau ungkapkan rasa syukurnya dengan semangat datang ke masjid. Berapa
jarak ke masjid? Sekitar setengah kilometer jarak rumahnya ke masjid.
Subhanallah..dan luar biasanya, beliau lakukan setiap hari.
“sudah sangat lama tidak ke masjid, sangat rindu rasanya”
demikian beliau mengungkapkan. Kali ini mata beliau saya lihat berkaca-kaca. Hatinya
mungkin sedang berkecamuk antara beratnya menahan ujian dan bersyukur masih
diberikan hidayah iman dan ketakwaan oleh Allah. Saya seperti diingatkan untuk
mengukur diri. Tertunduk. Malu rasanya, mengingat hati ini belum terpaut dengan
masjid seindah tautan hati bu khadijah dengan masjid tercinta.
Pagi itu, saya diajarkan sebuah pelajaran hidup yang luar
biasa. Tentang ikhtiar tiada putus asa dan menggantungkan harapan hanya pada Allah
Yang Maha Kuasa. Bahwa jika ditimpa musibah harus dihadapi dengan sabar yang
tiada batas. Bahwa ketika musibah itu datang justru harus semakin kencang lari
kita untuk mendekat kepada Allah. Karena Dialah yang Maha Pemberi Harapan dan
Pertolongan ketika para makhluknya yang lemah tak sanggup memberi pertolongan.
Dan Dialah Allah, dzat yang tak pernah mengingkari janji-Nya untuk memberikan
pertolongan kepada hambaNya yang sabar. Allah berfirman : ”Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang
dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan),
maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah
itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
(QS Ali-Imron: 160)
Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, bersabar memang tidak
mudah. Maka ketika hati mulai tergelitik untuk mengeluh dan berhenti bersabar
atas ujian, berdoalah. Mintalah kepada Sang Pemilik Hati kita karunia kesabaran
itu. Wallahu A’lam Bisshowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar