Rabu, 15 Mei 2013

Iqro April 2013 : Ketika Tekad telah Membulat



Fatimatus Zahrah. Sebuah nama yang tak asing dalam sejarah islam. Siapa yang tak kenal dengan wanita mulia putri baginda Rasululloh saw. Seorang wanita yang  terkenal dengan kesantunan budi pekertinya, kecerdasan dan ketaqwaan luar biasa. Teladan bagi muslimah sepanjang zaman. Namanya harum. Maka para orang tua yang berharap putri mereka meneladani beliau, sering melekatkan nama itu untuk putrinya. Salah satunya fatimatus zahro, seorang akhwat yang saya kenal. Dia hafidzah, Penghafal quran.
Adalah fatimatus zahrah, atau lebih dikenal dengan faza. Selepas SMP, kedua orang tuanya mengirim faza remaja ke pondok pesantren. Sebuah jenjang lanjutan yang dalam mimpi sekalipun tidak pernah terlintas di benaknya. Bahkan manakala penentuan jurusan, faza tidak diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Dia hanya mengangguk manakala kedua orang tuanya memilihkan jurusan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) untuknya. Sebuah jurusan yang di dalamnya ada kewajiban menghafal qur’an bagi para santrinya selama mereka menempuh pendidikan di sana. Dengan target minimal 8 juz dalam satu tahun.
Setengah terpaksa, faza menjalani hari-hari nya di pondok pesantren yang terletak di ujung jogjakarta. Ketika itu semua santri menjalani masa orientasi. Pilihan di awal pendaftaran tidak serta merta menjadikan mereka santri di masing-masing jurusan. Ada beberapa tes lagi yang harus dilalui. Khusus bagi santri MAK harus melalui uji coba hafalan.
Di suatu pagi yang dinginnya telah terbias oleh kehangatan mentari, faza tengah berdebar menunggu kehadiran bu nyai. Sesaat kemudian, bu nyai memasuki ruang berukuran 4x5 meter itu. Seolah bisa mendengar degub jantungnya, faza berjuang menenangkan diri. Dia tidak sendiri, ada 9 orang teman lain yang sedang bersiap menerima ujian hafalan dari bu nyai. Untuk menentukan mereka layak atau tidak masuk jurusan MAK.
Dengan tenang bu nyai menyebutkan halaman mana yang harus dibuka peserta ujian. Kontan jantung faza makin tak karuan. Bagaimana tidak, dia tidak pernah secara khusus belajar teknik menghafal Qur’an. Dalam benaknya sibuk bertanya “bagaimana mungkin menghafal separoh halaman dalam waktu satu jam?”. Ingin menangis tapi tertahan oleh rasa malu. Tak tik tuk jam dinding semakin membuyarkan konsentrasi faza.
Satu jam serasa seperti satu menit, ketika tiba-tiba bu nyai memberi aba-aba bahwa waktu telah berakhir. Satu persatu peserta menyetor hafalan hasil perjuangan satu jam lalu. Yang menakjubkan, semuanya lulus. Kecuali faza. Dengan lembut bu nyai menyampaikan agar faza jangan putus asa dan mencoba lagi di lain kesempatan.
Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." (QS Al Hijr : 56)
Berbekal pemahaman tentang ayat tersebut lah, faza terlecut untuk tetap melanjutkan ujian masuk MAK. Jika semula kehendak orang tua yang membuatnya melangkah, tapi tidak setelah hari itu. Secara otodidak faza mencari sendiri pola menghafal yang paling mudah menurutnya. Karena sebelum resmi masuk MAK, santri tidak diajari teknik meghafal sama sekali.
Beberapa hari kemudian, faza memberanikan diri menghadap bu nyai. Seorang diri. Sebagaimana halnya tes pertama, faza diminta menghafal separoh halaman yang dipilih acak oleh bu nyai dalam waktu satu jam saja. Berbekal kepercayaan diri yang lebih tinggi, faza menghafal dengan tekun. Tibalah saat setor hasil hafalan, subahanallah Allahuakbar, ketika didepan bu nyai tiba-tiba hafalan yang tadi begitu lancar hilang  tak berbekas. Kata pertama di ayat tersebut pun tak mampu dia ingat.
Dengan suara lebih di tekan, bu nyai kembali memotivasi faza untuk berjuang di lain kesempatan. Faza pun kembali ke asrama dengan wajah tertunduk lesu. Bukannya menyerah dan pasrah masuk jurusan MAU (Madrasah Aliyah Umum), faza muda justru semakin bersemangat melatih teknik hafalannya. Beberapa hari kemudian peristiwa ujian terulang lagi, dan lagi, dan lagi. Hingga di ikhtiar yang ke tujuh, bu nyai berkata dengan tegas “kamu tidak sanggup di kelas tahfidzul qur’an, masuk Aliyah umum saja”. Bu nyai bukan orang pertama yang mengatakan hal ini. Sebelumnya, para ustazah, para santri senior  dan santri se tingkat pun mengatakan hal serupa. Bahwa dia terlalu lemah untuk kelas tahfidul qur’an. Kapasitas otaknya untuk menghafal sangat kurang. Begitu opini mereka.
Bagai di sambar petir, faza menangis tersedu-sedu. Seolah sudah lupa dihadapan siapa dia tengah duduk. Dia menangis meratapi kegagalannya. Melihat itu, bu nyai yang menguji kemudian merasa iba. Dan bertanya dengan suara lembut “apa kamu benar-benar ingin masuk kelas tahfidzul qur’an?”. Tanpa bersuara, faza hanya mengangguk. “baru kali ini ada santri maju sampai tujuh kali, biasanya jika gagal di ujian ke dua, mereka menyerah.” Lanjut bu nyai.
Sesaat kemudian, seolah tidak percaya, faza mendengar bu nyai mengatakan bahwa beliau mengizinkan faza masuk MAK, dengan syarat faza harus hafal juz 30 dalam waktu yang ditentukan. Sebuah perlakuan khusus, yang belum pernah diterima calon santri lain. Airmata pun semakin berderai, tapi kali ini karena bahagia dan rasa syukur.  Karena juz 30 sudah khatam di hafalnya sejak SD.
Benar adanya bahwa faza butuh waktu dua kali lebih lama untuk menghafal. Benar pula faktanya bahwa, untuk sehalaman Qur’an umumnya dihafal 3 jam, faza butuh 6 jam. Bahkan ketika teman-tmean sudah asyik dengan istirahat malam, faza harus menjaga semangatnya untuk tetap menghafal ditengah heningnya malam. Dan kini tiga tahun berlalu atas izin Allah SWT, faza berhasil mencapai hafalan 26 juz. Melebihi target yg ditetapkan dan melewati pencapaian teman-temannya yang berhasil dalam sekali ujian dulu.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (Al Hujuraat : 49)
Melihat perjuangan faza sungguh luar biasa, tetap maju walau di ragukan banyak pihak. Sebagai orang beriman, tentu kita tidak akan berhenti berjuang untuk sebuah kebaikan. Pun demikian dalam menjalani hidup. Sedikit kesulitan sangat tidak layak kita jadikan alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: “ketika Allah SWT selesai membangun Alam semesta, maka Allah SWT mencantumkan diatas Arsy: Sungguh Kasih SayangKu melebihi KemurkaanKu” (Shahih Bukhari)
Maka, betapa beruntungnya orang-orang yang tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT. Karena baginya hanya Allah lah sebaik-baik penolong. Ketika tekad sudah membulat, langkah terbaik yang kita lakukan adalah berikhtiar sebaik mungkin. Dan tentang hasil, sepenuhnya ada dalam kekuasaan Allah SWT, karena Allah tidah pernah memberikan ujian tanpa solusinya.
Dalam hal ini Allah telah berfirman di surat Alam Nasyrah ayat 1-7 : (1) Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (2) dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (3) yang memberatkan punggungmu (4) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu (5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6) sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Fatimatus zahrah, seorang Mahasiswi pergururan tinggi di Malang hanyalah seorang diantara jutaan umat yang di uji kesungguhannya oleh Allah SWT. Dan dia, di usia yang sangat muda, telah berhasil melewati ujian itu dengan gemilang. Saya berdoa, semoga kelak faza bisa berkumpul dengan sosok yang telah menginspirasi namanya, fatimah az zahra binti Muhammad shallallahu alaihi wa sallam..Wallahu’alam bis shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar