Fatimatus Zahrah. Sebuah nama yang tak asing dalam sejarah
islam. Siapa yang tak kenal dengan wanita mulia putri baginda Rasululloh saw.
Seorang wanita yang terkenal dengan
kesantunan budi pekertinya, kecerdasan dan ketaqwaan luar biasa. Teladan bagi
muslimah sepanjang zaman. Namanya harum. Maka para orang tua yang berharap
putri mereka meneladani beliau, sering melekatkan nama itu untuk putrinya.
Salah satunya fatimatus zahro, seorang akhwat yang saya kenal. Dia hafidzah,
Penghafal quran.
Adalah fatimatus zahrah, atau lebih dikenal dengan faza.
Selepas SMP, kedua orang tuanya mengirim faza remaja ke pondok pesantren.
Sebuah jenjang lanjutan yang dalam mimpi sekalipun tidak pernah terlintas di
benaknya. Bahkan manakala penentuan jurusan, faza tidak diberi kesempatan untuk
terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Dia hanya mengangguk manakala
kedua orang tuanya memilihkan jurusan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) untuknya.
Sebuah jurusan yang di dalamnya ada kewajiban menghafal qur’an bagi para
santrinya selama mereka menempuh pendidikan di sana. Dengan target minimal 8
juz dalam satu tahun.
Setengah terpaksa, faza menjalani hari-hari nya di pondok
pesantren yang terletak di ujung jogjakarta. Ketika itu semua santri menjalani
masa orientasi. Pilihan di awal pendaftaran tidak serta merta menjadikan mereka
santri di masing-masing jurusan. Ada beberapa tes lagi yang harus dilalui.
Khusus bagi santri MAK harus melalui uji coba hafalan.
Di suatu pagi yang dinginnya telah terbias oleh kehangatan
mentari, faza tengah berdebar menunggu kehadiran bu nyai. Sesaat kemudian, bu
nyai memasuki ruang berukuran 4x5 meter itu. Seolah bisa mendengar degub
jantungnya, faza berjuang menenangkan diri. Dia tidak sendiri, ada 9 orang
teman lain yang sedang bersiap menerima ujian hafalan dari bu nyai. Untuk
menentukan mereka layak atau tidak masuk jurusan MAK.
Dengan tenang bu nyai menyebutkan halaman mana yang harus
dibuka peserta ujian. Kontan jantung faza makin tak karuan. Bagaimana tidak,
dia tidak pernah secara khusus belajar teknik menghafal Qur’an. Dalam benaknya
sibuk bertanya “bagaimana mungkin menghafal separoh halaman dalam waktu satu
jam?”. Ingin menangis tapi tertahan oleh rasa malu. Tak tik tuk jam dinding
semakin membuyarkan konsentrasi faza.
Satu jam serasa seperti satu menit, ketika tiba-tiba bu nyai
memberi aba-aba bahwa waktu telah berakhir. Satu persatu peserta menyetor
hafalan hasil perjuangan satu jam lalu. Yang menakjubkan, semuanya lulus.
Kecuali faza. Dengan lembut bu nyai menyampaikan agar faza jangan putus asa dan
mencoba lagi di lain kesempatan.
Ibrahim berkata:
"Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali
orang-orang yang sesat." (QS Al Hijr : 56)
Berbekal pemahaman tentang ayat tersebut lah, faza terlecut
untuk tetap melanjutkan ujian masuk MAK. Jika semula kehendak orang tua yang
membuatnya melangkah, tapi tidak setelah hari itu. Secara otodidak faza mencari
sendiri pola menghafal yang paling mudah menurutnya. Karena sebelum resmi masuk
MAK, santri tidak diajari teknik meghafal sama sekali.
Beberapa hari kemudian, faza memberanikan diri menghadap bu
nyai. Seorang diri. Sebagaimana halnya tes pertama, faza diminta menghafal
separoh halaman yang dipilih acak oleh bu nyai dalam waktu satu jam saja.
Berbekal kepercayaan diri yang lebih tinggi, faza menghafal dengan tekun.
Tibalah saat setor hasil hafalan, subahanallah Allahuakbar, ketika didepan bu
nyai tiba-tiba hafalan yang tadi begitu lancar hilang tak berbekas. Kata pertama di ayat tersebut
pun tak mampu dia ingat.
Dengan suara lebih di tekan, bu nyai kembali memotivasi faza
untuk berjuang di lain kesempatan. Faza pun kembali ke asrama dengan wajah
tertunduk lesu. Bukannya menyerah dan pasrah masuk jurusan MAU (Madrasah Aliyah
Umum), faza muda justru semakin bersemangat melatih teknik hafalannya. Beberapa
hari kemudian peristiwa ujian terulang lagi, dan lagi, dan lagi. Hingga di
ikhtiar yang ke tujuh, bu nyai berkata dengan tegas “kamu tidak sanggup di
kelas tahfidzul qur’an, masuk Aliyah umum saja”. Bu nyai bukan orang pertama
yang mengatakan hal ini. Sebelumnya, para ustazah, para santri senior dan santri se tingkat pun mengatakan hal
serupa. Bahwa dia terlalu lemah untuk kelas tahfidul qur’an. Kapasitas otaknya
untuk menghafal sangat kurang. Begitu opini mereka.
Bagai di sambar petir, faza menangis tersedu-sedu. Seolah
sudah lupa dihadapan siapa dia tengah duduk. Dia menangis meratapi
kegagalannya. Melihat itu, bu nyai yang menguji kemudian merasa iba. Dan
bertanya dengan suara lembut “apa kamu benar-benar ingin masuk kelas tahfidzul
qur’an?”. Tanpa bersuara, faza hanya mengangguk. “baru kali ini ada santri maju
sampai tujuh kali, biasanya jika gagal di ujian ke dua, mereka menyerah.”
Lanjut bu nyai.
Sesaat kemudian, seolah tidak percaya, faza mendengar bu
nyai mengatakan bahwa beliau mengizinkan faza masuk MAK, dengan syarat faza
harus hafal juz 30 dalam waktu yang ditentukan. Sebuah perlakuan khusus, yang
belum pernah diterima calon santri lain. Airmata pun semakin berderai, tapi
kali ini karena bahagia dan rasa syukur.
Karena juz 30 sudah khatam di hafalnya sejak SD.
Benar adanya bahwa faza butuh waktu dua kali lebih lama
untuk menghafal. Benar pula faktanya bahwa, untuk sehalaman Qur’an umumnya
dihafal 3 jam, faza butuh 6 jam. Bahkan ketika teman-tmean sudah asyik dengan
istirahat malam, faza harus menjaga semangatnya untuk tetap menghafal ditengah
heningnya malam. Dan kini tiga tahun berlalu atas izin Allah SWT, faza berhasil
mencapai hafalan 26 juz. Melebihi target yg ditetapkan dan melewati pencapaian
teman-temannya yang berhasil dalam sekali ujian dulu.
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (Al
Hujuraat : 49)
Melihat perjuangan faza sungguh luar biasa, tetap maju walau
di ragukan banyak pihak. Sebagai orang beriman, tentu kita tidak akan berhenti
berjuang untuk sebuah kebaikan. Pun demikian dalam menjalani hidup. Sedikit
kesulitan sangat tidak layak kita jadikan alasan untuk berputus asa dari rahmat
Allah SWT.
Rasulullah SAW
bersabda: “ketika Allah SWT selesai membangun Alam semesta, maka Allah SWT
mencantumkan diatas Arsy: Sungguh Kasih SayangKu melebihi KemurkaanKu” (Shahih
Bukhari)
Maka, betapa beruntungnya orang-orang yang tidak pernah
berputus asa dari rahmat Allah SWT. Karena baginya hanya Allah lah sebaik-baik
penolong. Ketika tekad sudah membulat, langkah terbaik yang kita lakukan adalah
berikhtiar sebaik mungkin. Dan tentang hasil, sepenuhnya ada dalam kekuasaan
Allah SWT, karena Allah tidah pernah memberikan ujian tanpa solusinya.
Dalam hal ini Allah telah berfirman di surat Alam Nasyrah
ayat 1-7 : (1) Bukankah
Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (2) dan Kami telah menghilangkan
daripadamu bebanmu (3) yang memberatkan punggungmu (4) Dan Kami tinggikan
bagimu sebutan (nama)mu (5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan (6) sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (7) Maka apabila
kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain.
Fatimatus zahrah, seorang Mahasiswi pergururan tinggi di
Malang hanyalah seorang diantara jutaan umat yang di uji kesungguhannya oleh
Allah SWT. Dan dia, di usia yang sangat muda, telah berhasil melewati ujian itu
dengan gemilang. Saya berdoa, semoga kelak faza bisa berkumpul dengan sosok
yang telah menginspirasi namanya, fatimah az zahra binti Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam..Wallahu’alam bis shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar