Saya, termasuk orang yang
merasa menjalani hidup biasa-biasa saja. Hidup sebagaimana orang kebanyakan.
Terlahir ditengah keluarga muslim. Mengenyam pendidikan tanpa harus
berlelah-lelah dengan beratnya biaya sekolah. Dan kini, berpekerjaan seperti
pada umumnya orang. Tak pernah habis syukur saya karena tak pernah kikis pula
nikmat yang Allah berikan sepanjang hidup ini.
Dengan keberlimpahan karunia
tersebut, maka tak pernah surut kagum saya kepada mereka yang Allah berikan
setting hidup yang tidak biasa. Tidak sedikit orang yang harus mejalani
skenario memilukan dalam hidupnya. Tentang betapa mereka harus rela
menanggalkan harga dirinya demi sesuap nasi. Tentang kerasnya perjuangan yang
mereka alami demi membuka tabir takdir yang sudah tertulis. Satu hal yang tidak
akan pernah berubah adalah keistimewaan mereka. Bahwa semua tampak sederhana
bagi mereka, tapi begitu memberi pelajaran mendalam bagi saya. Subhanallah.
Betapa tidak terbayangkan apa
yang akan saya lakukan manakala berada diposisi tersebut. Adakah saya akan
sekuat mereka. Ataukah akan tumbang tersungkur dalam kekalahan. Kisah-kisah
tentang taubat, atau tentang keberanian mengubah jalan hidup kerap membuat saya
takjub. Seperti kisah sahabat saya berikut ini. Dia yang berjuang melawan
ketakutannya. Dengan berani mengambil keputusan yang sulit dipercaya, bahkan
olehnya sendiri.
Adalah ranti, seorang belia
berusia 13 tahun yang tengah duduk dibangku kelas 2 SMP. Keceriaannya harus terrenggut manakala sang
ayah telah memenuhi panggilan Ilahi karena sakit. Tinggalah ibu yang selalu
menguatkan dia selepas kepergian ayahnya. Namun, apa daya ketika takdir sudah
tertulis. Selang beberapa bulan ibu tercinta pergi meninggalkannya sebatang
kara. Ranti muda kini berstatus yatim piatu.
Tak ada seorangpun anak yang
berkenan berada diposisi dia saat itu. Bahkan ranti sendiri. Andai boleh
memilih, dia ingin menyusul kedua orang tuanya. Namun pesan terakhir ibunya,
bahwa dia harus berjuang untuk melanjutkan hidup lah yang membuatnya berusaha
tegar.
Bak kisah sinetron memilukan,
perjalanan takdir membawa Ranti ke kota rantau, tinggal bersama pamannya.
Secara ekonomi, pamannya bukanlah orang berkecukupan. Bahkan untuk makan
sehari-hari harus sering puasa. Alhasil, selepas SMP gadis muda itu harus
dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Di tengah kebingungan yang
luar biasa, ranti bercerita pada teman karibnya. Betapa besar keinginan dia
untuk sekolah ditingkat SMU. Atas nama persahabatan, temannya ini mengajak
ranti mencari pekerjaan. Saat melamar pekerjaan dipabrik, ranti dan tamannya
ditolak lantaran bisanya shift malam saja, mengingat siangnya mereka harus
sekolah.
Dalam putus asa, datanglah tawaran
pekerjaan dengan gaji menggiurkan. Entah ini sebuah pertolongan atau ujian
iman. Karena pekerjaan yang ditawarkan adalah menjadi purel di sebuah klub
malam. Dengan bekal pengetahuan seadanya mengenai apa itu diskotik, ranti muda
pun mengiyakan tawaran tersebut. Tekadnya hanya satu, ingin melanjutkan
sekolah.
Hari demi hari dilalui dengan
kepolosan yang memikat banyak pihak. Bermula dari tugas menyajikan minuman
keras, lama-kelamaan mulai datang tawaran lelaki hidung belang untuk menemani
minum. Tidak berhenti sampai di sini saja. Ranti yang polos juga harus
merelakan tubuhnya untuk menjadi pelampiasan nafsu lelaki hidung belang. Ibarat
pepatah, terlanjur basah mandi sekalian. Ranti muda pun terjerumus kuyup kedalam
gemerlap dunia yang melenakan. Penghasilan kala itu per hari bisa mencapai
300.000 ribu. Sedangkan gaji pekerja pabrik 500.000 sebulan.
Kendati hampir dua windu
ranti membiarkan dirinya bertekuk lutut pada gemerlap dunia, tapi nurani nya
belum mati. Jauh dilubuk hati yang paling dalam, dia merindukan Rabb yang lama
ditinggalkan. Terbesit doa lirih di nuraninya, ingin kembali.
“…barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat pertunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Nya, maka
kamu tidak akan mendapatkan seorangpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS Al kahfi : 17)
Hingga sampailah Ranti
dipersimpangan Pilihan hidup. Seorang lelaki datang meminang. Andai yang hadir
adalah pria dengan gelimang harta melimpah, pasti tidak perlu seribu kali untuk
berpikir. Ironisnya, yang datang adalah seorang laki-laki sederhana. Tanpa
iming-iming gemerlap harta, hanya berbekal basmalah.
Namun, keberanian Ranti dalam
melawan ketakutan akan kemiskinan lah yang membuatnya mengambil keputusan
itu. Seolah merasa mendapat kesempatan
hidup yang kedua, Ranti yang kini beranjak dewasa menerima pinangan itu.
Memilih hidup dalam kesederhanaan. Menyandang predikat istri pria sederhana
dengan penghasilan sekedarnya. Bayang-bayang penghasilan suami sebagai tukang
serabutan tak membuatnya kemudian mundur.
Kini, babak baru kehidupan
ranti telah beberapa tahun berlangsung. Sekalipun hanya setahun sekali dia
berganti baju baru, terasa indah baginya. Jika dulu dia bisa memilih makan apa
yang diinginkan sesuai selera, kini seleranya yang harus menyesuaikan isi
kantong hari itu. Tapi sungguh, dia merasa lebih bahagia di babak ke dua
hidupnya saat ini. Berkahnya rizki ternyata benar lebih nikmat walau dalam
kesederhanaan. Dalam diri Ranti ada
syukur yang tiada terkira. Andai Sang Pemilik jiwa ini merenggut nyawanya saat
berada di dunia kelam, sungguh tak terbayang apa yang harus diterima ranti
kelak di yaumul hisab.
Suatu ketika, Ranti bertanya
kepada saya “apakah Allah mengampuni
dosa saya mbak? Apakah sholat saya yang sekarang diterima? Kan dulu saya
seperti itu”. Subahanallah. Sekejab hati ini merasa sangat malu. Benar-benar
malu. Betapa sombong diri ini, yang merasa baik. Tidak pernah mempertanyakan
pada diri sendiri, sholat dengan kualitas bagaimana yang tertunaikan selama
ini.
“insyaAllah mbak, Allah Maha Pengampun”. Hanya
ini yang mampu terucap untuknya. Karena hati sedang sibuk menahan sesak, sangat
sesak. Mendengar penuturan Ranti, air mata ini mendesak untuk keluar. Tapi
tertahan oleh rasa ingin menguatkan sahabat saya. Yang masih terus berjuang
mendekati Rabb nya sekelam apapun masa lalu yang di ukir dulu.
“….janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya (selain syirik). Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” (QS Az Zumar : 53). Ayat
ini yang menguatkan ranti baru, dalam melanjutkan takdir hidupnya. Wallahua’lam
bishowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar