Rabu, 15 Mei 2013

Iqro Maret 2013 : Jalan Hidup Tak Biasa Manusia istimewa



Saya, termasuk orang yang merasa menjalani hidup biasa-biasa saja. Hidup sebagaimana orang kebanyakan. Terlahir ditengah keluarga muslim. Mengenyam pendidikan tanpa harus berlelah-lelah dengan beratnya biaya sekolah. Dan kini, berpekerjaan seperti pada umumnya orang. Tak pernah habis syukur saya karena tak pernah kikis pula nikmat yang Allah berikan sepanjang hidup ini.
Dengan keberlimpahan karunia tersebut, maka tak pernah surut kagum saya kepada mereka yang Allah berikan setting hidup yang tidak biasa. Tidak sedikit orang yang harus mejalani skenario memilukan dalam hidupnya. Tentang betapa mereka harus rela menanggalkan harga dirinya demi sesuap nasi. Tentang kerasnya perjuangan yang mereka alami demi membuka tabir takdir yang sudah tertulis. Satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah keistimewaan mereka. Bahwa semua tampak sederhana bagi mereka, tapi begitu memberi pelajaran mendalam bagi saya. Subhanallah.
Betapa tidak terbayangkan apa yang akan saya lakukan manakala berada diposisi tersebut. Adakah saya akan sekuat mereka. Ataukah akan tumbang tersungkur dalam kekalahan. Kisah-kisah tentang taubat, atau tentang keberanian mengubah jalan hidup kerap membuat saya takjub. Seperti kisah sahabat saya berikut ini. Dia yang berjuang melawan ketakutannya. Dengan berani mengambil keputusan yang sulit dipercaya, bahkan olehnya sendiri.
Adalah ranti, seorang belia berusia 13 tahun yang tengah duduk dibangku kelas 2 SMP.  Keceriaannya harus terrenggut manakala sang ayah telah memenuhi panggilan Ilahi karena sakit. Tinggalah ibu yang selalu menguatkan dia selepas kepergian ayahnya. Namun, apa daya ketika takdir sudah tertulis. Selang beberapa bulan ibu tercinta pergi meninggalkannya sebatang kara. Ranti muda kini berstatus yatim piatu.
Tak ada seorangpun anak yang berkenan berada diposisi dia saat itu. Bahkan ranti sendiri. Andai boleh memilih, dia ingin menyusul kedua orang tuanya. Namun pesan terakhir ibunya, bahwa dia harus berjuang untuk melanjutkan hidup lah yang membuatnya berusaha tegar.
Bak kisah sinetron memilukan, perjalanan takdir membawa Ranti ke kota rantau, tinggal bersama pamannya. Secara ekonomi, pamannya bukanlah orang berkecukupan. Bahkan untuk makan sehari-hari harus sering puasa. Alhasil, selepas SMP gadis muda itu harus dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Di tengah kebingungan yang luar biasa, ranti bercerita pada teman karibnya. Betapa besar keinginan dia untuk sekolah ditingkat SMU. Atas nama persahabatan, temannya ini mengajak ranti mencari pekerjaan. Saat melamar pekerjaan dipabrik, ranti dan tamannya ditolak lantaran bisanya shift malam saja, mengingat siangnya mereka harus sekolah.
Dalam putus asa, datanglah tawaran pekerjaan dengan gaji menggiurkan. Entah ini sebuah pertolongan atau ujian iman. Karena pekerjaan yang ditawarkan adalah menjadi purel di sebuah klub malam. Dengan bekal pengetahuan seadanya mengenai apa itu diskotik, ranti muda pun mengiyakan tawaran tersebut. Tekadnya hanya satu, ingin melanjutkan sekolah.
Hari demi hari dilalui dengan kepolosan yang memikat banyak pihak. Bermula dari tugas menyajikan minuman keras, lama-kelamaan mulai datang tawaran lelaki hidung belang untuk menemani minum. Tidak berhenti sampai di sini saja. Ranti yang polos juga harus merelakan tubuhnya untuk menjadi pelampiasan nafsu lelaki hidung belang. Ibarat pepatah, terlanjur basah mandi sekalian. Ranti muda pun terjerumus kuyup kedalam gemerlap dunia yang melenakan. Penghasilan kala itu per hari bisa mencapai 300.000 ribu. Sedangkan gaji pekerja pabrik 500.000 sebulan.
Kendati hampir dua windu ranti membiarkan dirinya bertekuk lutut pada gemerlap dunia, tapi nurani nya belum mati. Jauh dilubuk hati yang paling dalam, dia merindukan Rabb yang lama ditinggalkan. Terbesit doa lirih di nuraninya, ingin kembali.
“…barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat pertunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorangpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS Al kahfi : 17)
Hingga sampailah Ranti dipersimpangan Pilihan hidup. Seorang lelaki datang meminang. Andai yang hadir adalah pria dengan gelimang harta melimpah, pasti tidak perlu seribu kali untuk berpikir. Ironisnya, yang datang adalah seorang laki-laki sederhana. Tanpa iming-iming gemerlap harta, hanya berbekal basmalah.
Namun, keberanian Ranti dalam melawan ketakutan akan kemiskinan lah yang membuatnya mengambil keputusan itu.  Seolah merasa mendapat kesempatan hidup yang kedua, Ranti yang kini beranjak dewasa menerima pinangan itu. Memilih hidup dalam kesederhanaan. Menyandang predikat istri pria sederhana dengan penghasilan sekedarnya. Bayang-bayang penghasilan suami sebagai tukang serabutan tak membuatnya kemudian mundur.
Kini, babak baru kehidupan ranti telah beberapa tahun berlangsung. Sekalipun hanya setahun sekali dia berganti baju baru, terasa indah baginya. Jika dulu dia bisa memilih makan apa yang diinginkan sesuai selera, kini seleranya yang harus menyesuaikan isi kantong hari itu. Tapi sungguh, dia merasa lebih bahagia di babak ke dua hidupnya saat ini. Berkahnya rizki ternyata benar lebih nikmat walau dalam kesederhanaan.  Dalam diri Ranti ada syukur yang tiada terkira. Andai Sang Pemilik jiwa ini merenggut nyawanya saat berada di dunia kelam, sungguh tak terbayang apa yang harus diterima ranti kelak di yaumul hisab.
Suatu ketika, Ranti bertanya kepada saya  “apakah Allah mengampuni dosa saya mbak? Apakah sholat saya yang sekarang diterima? Kan dulu saya seperti itu”. Subahanallah. Sekejab hati ini merasa sangat malu. Benar-benar malu. Betapa sombong diri ini, yang merasa baik. Tidak pernah mempertanyakan pada diri sendiri, sholat dengan kualitas bagaimana yang tertunaikan selama ini.
 “insyaAllah mbak, Allah Maha Pengampun”. Hanya ini yang mampu terucap untuknya. Karena hati sedang sibuk menahan sesak, sangat sesak. Mendengar penuturan Ranti, air mata ini mendesak untuk keluar. Tapi tertahan oleh rasa ingin menguatkan sahabat saya. Yang masih terus berjuang mendekati Rabb nya sekelam apapun masa lalu yang di ukir dulu.
 “….janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (selain syirik). Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar : 53). Ayat ini yang menguatkan ranti baru, dalam melanjutkan takdir hidupnya. Wallahua’lam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar