Mendengar
cecar pertanyaan seputar pernikahan tak ayal menambah ribuan ton beban pikiran
bagi kita yang telah memasuki usia “pantas” menikah. Bagaimana tidak,
pertanyaan semacam “kapan nikah?, nunggu apa lagi?” atau pertanyaan menghakimi
seperti “mencari yang seperti apa? Jadi
orang jangan terlalu pilih-pilih” ibarat
jadwal panas matahari jam 12 siang, yang tiada pernah absen setiap harinya.
Setiap saat pertanyaan serupa menghiasi hari-hari penantian bertemu pasangan
hidup.
Mungkin saja
yang bertanya itu memang tulus berempati dengan kondisi kita yang belum
menikah. Meskipun sebenarnya siapa yang tidak mau nikah? Siapapun ingin
menjalani hidup dengan pendamping setia, memiliki anak, dan berkeluarga besar.
Menikah tidaklah
sesederhana membeli pakaian. Cukup mencari toko penyedia pakaian, memilih model
sesuai selera, menyesuaikan jumlah rupiah di dompet, lalu bungkus. Tidak
demikian. Menikah adalah tentang pilihan sekali seumur hidup. Sekali merasa
salah pilih, maka merananya seolah sepanjang sisa usia. Meskipun, tidak jarang
yang memilih pasangan hidupnya melalui proses seleksi berkali-kali atau bahkan
sampai melanggar syariat agama, malah bahteranya paling sering kandas di tengah
jalan.
Jadi masalah
jodoh, karena sangat berkaitan dengan seperti apa kualitas hidup kita di masa
akan datang, berkaitan anak seperti apa yang akan lahir, maka ia harus
sepenuhnya kita yakini sebagai takdir. Benar-benar takdir.
Maka wahai
hati yang sedang gundah menanti,..
Seberapa
besar pun kegelisahan diri, tetaplah menjauh dari iming-iming indahnya maksiat.
Ketika teman di kanan dan kiri sibuk menunjukkan kepiawaian berganti pasangan,
dengan dalih seleksi, maka tahanlah diri untuk berguru jejak itu. Bulatkan
tekad, bahwa ketersediaan kita untuk dicinta dan mencinta hanya untuk dia yang
beriman, yang disiapkan Allah untuk menemani laju ibadah kita.
Sementara
kita menahan diri, pastinya akan muncul pertanyaan “Kapan jodohku datang?”.
Menjawab pertanyaan ini sama halnya saat kita harus menjawab pertanyaan “Kapan
malaikat maut menjemputku?”. Klasik memang, bahwa jodoh, rizki, lahir dan maut
itu mutlak ada pada kekuasan Allah. Tapi memang benar adanya. Coba perhatikan
kisah-kisah kehidupan yang pernah kita dengar. Dari teman, saudara atau diantara
kita ada yang pernah mengalami sendiri. Sebuah hubungan asmara yang telah
terjalin dalam bilangan tahun, bisa berakhir hanya beberapa pekan menjelang
pernikahan. Subhanallah, ini menjadi renungan bagi kita, jika Allah SWT sudah
berkehendak maka gunung saja bisa hancur berkeping apalagi jalinan dua insan
yang tidak mendapat ridhoNya.
Maka
bersabarlah dengan ketetapanNya. Seperti halnya rizki, kita tidak akan tau
kapan jodoh itu datang. Di mana kita bertemu dengannya, seperti apa kondisinya,
siapa dia dan bagaimana bermulanya, sungguh kita tidak bisa mengangan-angankan
layaknya sebuah drama. Serahkan perihal penting ini pada yang memiliki jiwa
kita.
" ... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya
Dia akan membukakan jalan keluar bagiNya, dan Dia memberinya rezeki dari arah
yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."
- [Surah Ath-Thalaq, 65: 2-3]
Jika kita
percaya bahwa Allah SWT yang telah memberi kehidupan pada kita dengan
rahmatNya, maka lebih yakinlah pula bahwa Allah sangat bisa memilihkan jodoh
terbaik untuk kita. bertawakkallah dengan sebaik-baik tawakkal. Tanpa
kecurigaan akan kemampuan Sang Khaliq, tanpa gerutu akan detik demi detik
penantian.
Wahai jiwa
yang sedang gundah,…
Berserah diri
bukan berarti berdiam diri. Ada sebuah pertanyaan sederhana tapi menggelitik,
“jodoh itu di tunggu atau di cari?”. Dalam hal ini, istilah “mencari jodoh”
tidak serta merta bermakna seperti “mencari nafkah”. Sangat berbeda dalam
konsep wujud ikhtiarnya. Secara fisik, mencari nafkah melibatkan gerakan
jasmani yang disebut bekerja. Dan kemudian memunculkan hak untuk menerima
penghasilan.
Lain hal
dengan mencari jodoh. Ikhtiar yang terkandung didalamnya bermakna lebih dari
sekedar ikhtiar dhohir. Bukan tentang perginya kita ke sebuah perkumpulan
laki-laki dan perempuan, untuk saling kenal, memilah dan memilih. Sekali lagi
bukan tentang itu. Mengikhtiarkan jodoh, lebih berkenaan dengan mempersiapkan
diri untuk pantas menerima jodoh yang sudah ditentukan.
Seorang
laki-laki, mengikhtiarkan jodoh dengan mempersiapkan diri sebagai calon
pemimpin rumah tangga. Memperbaiki akhlak, mendewasakan cara berpikir,
meningkatkan kesabaran menghadapi berbagai macam ujian adalah beberapa hal yang
dipersiapkan kaum laki-laki. Tidak hanya itu, kesiapan menafkahi juga harus di
pikirkan. Mempersiapkan nafkah tidak bisa diartikan menumpuk harta. Istilah
“mapan” lebih tentang bisa menafkahi keluarga secara wajar, tidak berlebihan.
Hingga saat
jodoh itu di datangkan oleh Yang Maha Berkehendak, maka seorang pria lebih
tepat bila disibukkan oleh upaya
meningkatkan kesholehan pribadinya. Memperbaiki sholatnya, memperbanyak
sedekahnya dan tidak lupa memperbaiki performa secara wajar tidak berlebihan.
Sebagaimana
laki-laki, perempuanpun tidak lepas dari keharusan mengikhtiarkan jodohnya.
Karena menyandang predikat sebagai istri tidaklah sederhana. Ada kehormatan
suami yang harus dijaga. Bahwa lidah harus belajar menahan diri agar tidak
dengan mudah mengumbar aib suami. Dan hal ini memerlukan pembelajaran yang
benar-benar serius. Dimulai dari sekarang, harus terbiasa menjaga lidah dari
ghibah dann fitnah.
Manakala
seorang istri telah menjadi ibu, maka dia juga pendidik bagi anak-anaknya.
Persiapan yang dilakukan hingga jodoh menjelang adalah meningkatkan ilmu
sebanyak mungkin. Terutama ilmu agama. Tentang bagaimana dia akan mengawal
putra putrinya menjadi mukmin yang sukses di kemudian hari. Juga tentang
bagaimana pentingnya kesabaran seluas samudra ketika menghadapi anak-anak.
Berbagai persiapan yang diperlukan mengerucut pada satu titik, yaitu tekad
menyeriusi perbaikan akhlak sebagai wanita muslim.
Setiap
laki-laki atau perempuan, pasti mengidamkan pasangan yang terbaik. Baik di
akhlaknya, baik pada budi pekertinya, baik juga rasa tanggungjawabnya. Namun,
idaman ini hanya akan menjadi isapan jempol manakala tidak diimbangi dengan
perbaikan diri sendiri. Karena dengan jelas Allah SWT berfirman "Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang
keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik,
dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu
bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki
yang mulia (surga)." - [Surah An-Nur, 24: 26].
Jika kita
menginginkan jodoh yang baik sholatnya, maka bersabarlah dengan berjuang
menjadi pribadi yang baik sholatnya. Jika mengharap mendapat pasangan hidup
yang terpuji akhlaknya, maka bersabarlah dengan meningkatkan kesantunan akhlak
kita sendiri. Dan persiapan persiapan itu tidak hanya membutuhkan satu dua hari
saja. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun lamanya.
Wahai hati
yang masih mempertanyakan "kapan ya Allah, kapan?"
Ubahlah
pertanyaan itu menjadi doa. Gantilah ia menjadi sebentuk kata pujian kepadaNya,
pengagungan atas kekuasaanNya, kepasrahan atas kepitusanNya. Allah Maha Tahu
isi hatimu. Sedang keputusanNya tak pernah ada dalam ke sia-siaan. Selalu ada
rencana baik bagi mereka yang mau bersandar kepadaNya. Hatta, kalaupun jodoh
duniamu tak hadir lalu ajal keburu menjemput, engkau harus berhasil
menyelesaikan ujian itu dengan cara yang indah. Demi Allah, Dia telah pilihkan
jalan kemuliaan dalam kesucianmu. Hingga saatnya, kesucianmu itu berganti
kemuliaan Surga yang memang pantas engkau dapatkan.
Wahai hati
yang kini tenang dalam penantian,…
Sibukkanlah
diri dengan memperindah akhlak. Yakinlah, bahwa di suatu sudut di bumi Allah
ini, telah ada belahan jiwa yang tertulis untuk dipertemukan dengan dirimu.
Berbuat adil lah kepadanya dengan memantaskan diri untuknya. Karena, saat ini
dia sedang berjuang pula mempersiapkan dirinya agar pantas bersanding denganmu.
Berdoalah
untuknya, agar dia bersabar menanti ketetapan Sang Khaliq. Karena perjumpaan
telah tertulis di kitab lauful mahfudz dengan tinta takdir yang telah
mengering. Hanya soal waktu. Wallahu a'lam bisshowab..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar