Rabu, 15 Mei 2013

Iqro Februari 2013 : Jodohku Mana Ya?



Mendengar cecar pertanyaan seputar pernikahan tak ayal menambah ribuan ton beban pikiran bagi kita yang telah memasuki usia “pantas” menikah. Bagaimana tidak, pertanyaan semacam “kapan nikah?, nunggu apa lagi?” atau pertanyaan menghakimi seperti  “mencari yang seperti apa? Jadi orang jangan terlalu pilih-pilih” ibarat  jadwal panas matahari jam 12 siang, yang tiada pernah absen setiap harinya. Setiap saat pertanyaan serupa menghiasi hari-hari penantian bertemu pasangan hidup.
Mungkin saja yang bertanya itu memang tulus berempati dengan kondisi kita yang belum menikah. Meskipun sebenarnya siapa yang tidak mau nikah? Siapapun ingin menjalani hidup dengan pendamping setia, memiliki anak, dan berkeluarga besar.
Menikah tidaklah sesederhana membeli pakaian. Cukup mencari toko penyedia pakaian, memilih model sesuai selera, menyesuaikan jumlah rupiah di dompet, lalu bungkus. Tidak demikian. Menikah adalah tentang pilihan sekali seumur hidup. Sekali merasa salah pilih, maka merananya seolah sepanjang sisa usia. Meskipun, tidak jarang yang memilih pasangan hidupnya melalui proses seleksi berkali-kali atau bahkan sampai melanggar syariat agama, malah bahteranya paling sering kandas di tengah jalan.
Jadi masalah jodoh, karena sangat berkaitan dengan seperti apa kualitas hidup kita di masa akan datang, berkaitan anak seperti apa yang akan lahir, maka ia harus sepenuhnya kita yakini sebagai takdir. Benar-benar takdir.
Maka wahai hati yang sedang gundah menanti,..
Seberapa besar pun kegelisahan diri, tetaplah menjauh dari iming-iming indahnya maksiat. Ketika teman di kanan dan kiri sibuk menunjukkan kepiawaian berganti pasangan, dengan dalih seleksi, maka tahanlah diri untuk berguru jejak itu. Bulatkan tekad, bahwa ketersediaan kita untuk dicinta dan mencinta hanya untuk dia yang beriman, yang disiapkan Allah untuk menemani laju ibadah kita.
Sementara kita menahan diri, pastinya akan muncul pertanyaan “Kapan jodohku datang?”. Menjawab pertanyaan ini sama halnya saat kita harus menjawab pertanyaan “Kapan malaikat maut menjemputku?”. Klasik memang, bahwa jodoh, rizki, lahir dan maut itu mutlak ada pada kekuasan Allah. Tapi memang benar adanya. Coba perhatikan kisah-kisah kehidupan yang pernah kita dengar. Dari teman, saudara atau diantara kita ada yang pernah mengalami sendiri. Sebuah hubungan asmara yang telah terjalin dalam bilangan tahun, bisa berakhir hanya beberapa pekan menjelang pernikahan. Subhanallah, ini menjadi renungan bagi kita, jika Allah SWT sudah berkehendak maka gunung saja bisa hancur berkeping apalagi jalinan dua insan yang tidak mendapat ridhoNya.
Maka bersabarlah dengan ketetapanNya. Seperti halnya rizki, kita tidak akan tau kapan jodoh itu datang. Di mana kita bertemu dengannya, seperti apa kondisinya, siapa dia dan bagaimana bermulanya, sungguh kita tidak bisa mengangan-angankan layaknya sebuah drama. Serahkan perihal penting ini pada yang memiliki jiwa kita.
" ... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagiNya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." - [Surah Ath-Thalaq, 65: 2-3]
Jika kita percaya bahwa Allah SWT yang telah memberi kehidupan pada kita dengan rahmatNya, maka lebih yakinlah pula bahwa Allah sangat bisa memilihkan jodoh terbaik untuk kita. bertawakkallah dengan sebaik-baik tawakkal. Tanpa kecurigaan akan kemampuan Sang Khaliq, tanpa gerutu akan detik demi detik penantian.
Wahai jiwa yang sedang gundah,…
Berserah diri bukan berarti berdiam diri. Ada sebuah pertanyaan sederhana tapi menggelitik, “jodoh itu di tunggu atau di cari?”. Dalam hal ini, istilah “mencari jodoh” tidak serta merta bermakna seperti “mencari nafkah”. Sangat berbeda dalam konsep wujud ikhtiarnya. Secara fisik, mencari nafkah melibatkan gerakan jasmani yang disebut bekerja. Dan kemudian memunculkan hak untuk menerima penghasilan.
Lain hal dengan mencari jodoh. Ikhtiar yang terkandung didalamnya bermakna lebih dari sekedar ikhtiar dhohir. Bukan tentang perginya kita ke sebuah perkumpulan laki-laki dan perempuan, untuk saling kenal, memilah dan memilih. Sekali lagi bukan tentang itu. Mengikhtiarkan jodoh, lebih berkenaan dengan mempersiapkan diri untuk pantas menerima jodoh yang sudah ditentukan.
Seorang laki-laki, mengikhtiarkan jodoh dengan mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin rumah tangga. Memperbaiki akhlak, mendewasakan cara berpikir, meningkatkan kesabaran menghadapi berbagai macam ujian adalah beberapa hal yang dipersiapkan kaum laki-laki. Tidak hanya itu, kesiapan menafkahi juga harus di pikirkan. Mempersiapkan nafkah tidak bisa diartikan menumpuk harta. Istilah “mapan” lebih tentang bisa menafkahi keluarga secara wajar, tidak berlebihan.
Hingga saat jodoh itu di datangkan oleh Yang Maha Berkehendak, maka seorang pria lebih tepat bila  disibukkan oleh upaya meningkatkan kesholehan pribadinya. Memperbaiki sholatnya, memperbanyak sedekahnya dan tidak lupa memperbaiki performa secara wajar tidak berlebihan.
Sebagaimana laki-laki, perempuanpun tidak lepas dari keharusan mengikhtiarkan jodohnya. Karena menyandang predikat sebagai istri tidaklah sederhana. Ada kehormatan suami yang harus dijaga. Bahwa lidah harus belajar menahan diri agar tidak dengan mudah mengumbar aib suami. Dan hal ini memerlukan pembelajaran yang benar-benar serius. Dimulai dari sekarang, harus terbiasa menjaga lidah dari ghibah dann fitnah.
Manakala seorang istri telah menjadi ibu, maka dia juga pendidik bagi anak-anaknya. Persiapan yang dilakukan hingga jodoh menjelang adalah meningkatkan ilmu sebanyak mungkin. Terutama ilmu agama. Tentang bagaimana dia akan mengawal putra putrinya menjadi mukmin yang sukses di kemudian hari. Juga tentang bagaimana pentingnya kesabaran seluas samudra ketika menghadapi anak-anak. Berbagai persiapan yang diperlukan mengerucut pada satu titik, yaitu tekad menyeriusi perbaikan akhlak sebagai wanita muslim.
Setiap laki-laki atau perempuan, pasti mengidamkan pasangan yang terbaik. Baik di akhlaknya, baik pada budi pekertinya, baik juga rasa tanggungjawabnya. Namun, idaman ini hanya akan menjadi isapan jempol manakala tidak diimbangi dengan perbaikan diri sendiri. Karena dengan jelas Allah SWT berfirman "Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." - [Surah An-Nur, 24: 26].
Jika kita menginginkan jodoh yang baik sholatnya, maka bersabarlah dengan berjuang menjadi pribadi yang baik sholatnya. Jika mengharap mendapat pasangan hidup yang terpuji akhlaknya, maka bersabarlah dengan meningkatkan kesantunan akhlak kita sendiri. Dan persiapan persiapan itu tidak hanya membutuhkan satu dua hari saja. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun lamanya.
Wahai hati yang masih mempertanyakan "kapan ya Allah, kapan?"
Ubahlah pertanyaan itu menjadi doa. Gantilah ia menjadi sebentuk kata pujian kepadaNya, pengagungan atas kekuasaanNya, kepasrahan atas kepitusanNya. Allah Maha Tahu isi hatimu. Sedang keputusanNya tak pernah ada dalam ke sia-siaan. Selalu ada rencana baik bagi mereka yang mau bersandar kepadaNya. Hatta, kalaupun jodoh duniamu tak hadir lalu ajal keburu menjemput, engkau harus berhasil menyelesaikan ujian itu dengan cara yang indah. Demi Allah, Dia telah pilihkan jalan kemuliaan dalam kesucianmu. Hingga saatnya, kesucianmu itu berganti kemuliaan Surga yang memang pantas engkau dapatkan.
Wahai hati yang kini tenang dalam penantian,…
Sibukkanlah diri dengan memperindah akhlak. Yakinlah, bahwa di suatu sudut di bumi Allah ini, telah ada belahan jiwa yang tertulis untuk dipertemukan dengan dirimu. Berbuat adil lah kepadanya dengan memantaskan diri untuknya. Karena, saat ini dia sedang berjuang pula mempersiapkan dirinya agar pantas bersanding denganmu.
Berdoalah untuknya, agar dia bersabar menanti ketetapan Sang Khaliq. Karena perjumpaan telah tertulis di kitab lauful mahfudz dengan tinta takdir yang telah mengering. Hanya soal waktu. Wallahu a'lam bisshowab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar