Ketika itu
Surabaya tengah berselimut mendung. Di ujung kejauhan tampak langit gelap
menandakan sedang atau akan hujan. Saya bergegas menghabiskan segelas es tebu
di genggaman. Mendung tak menyurutkan nikmatnya mengobati haus dengan dinginnya
es. Tiba-tiba hape berdering seiring kosongnya gelas.
“mas tolong ambil
berkas di bu maryam. ” demikian perintah singkat dari rekan kantor di ujung
telepon. Setelah telepon berakhir, saya baru menyadari bahwa alamat tujuan
adalah sisi surabaya yang sedang diselimuti mendung pekat.
Subhanallah,
seingat saya tidak tersimpan jas hujan di jok sepeda lantaran terpakai kemarin
dan lupa mengembalikan pada tempatnya. Berbagai alasan sedang berputar di otak
untuk sekedar mengurungkan pengambilan berkas di bu maryam.
”ndak bisa mas,
harus hari ini. Untuk melengkapi pengurusan ke depag, tolong ya mas” mendengar
ini saya akhirnya menyerah. Niat membatalkan pengambilan berkas saya buang
jauh. Karena pasti tingkat kebutuhan sudah sangat serius. Jika saya
menundanya, maka pendaftaran haji bu
maryam juga akan tertunda. Dan prinsip yang diajarkan kepada kami, pelayan
calon tamu Allah adalah melayani dengan sebaik mungkin.
Setelah menempuh
perjalanan 30 menit akhirnya saya sampai di sekitar wilayah tujuan. Benar saja,
gerimis telah membasahi tanpa menyisakan sejengkal pun tanah dalam keadan
kering. Tujuan saya adalah sebuah ruko elit di bilangan kota surabaya. ”pasti
bu maryam ini adalah pemilik atau manajer di perusahaan yang berkantor disini”
pikir saya setiba di lokasi.
Yang membuat agak
aneh, adalah saya tidak diberikan blok dan nomer kantor yang harus saya ketuk
pintunya. Alhasil, saya harus menepi disudut ruko sambil berteduh. ”mas nya
sekarang posisi di mana? .... o ya ya tunggu di situ, saya akan segera
kesana” begini kira-kira bu maryam
merespon pertanyaan saya melalui telpon tentang blok dan nomer kantor. Bukannya memberi alamt lengkap malah
meminta saya menunggu di tempat. apa mungkin beliau tau saya ndak bawa jas
hujan lalu jemput pakai payung. Ah, ndak mungkin lah.
Sambil menahan
dingin karena jaket sudah berangsur lembab terkena gerimis kecil. Dari kejauhan
tampak seseorang mendekat. Dari cara berpakaiannya sudah jelas dia adalah
tukang parkir. Jangan-jangan pak parkir ini mau mengingatkan bahwa saya parkir
ditempat yang salah. Hampir bersiap bertanya manakalah orang itu mendekat,
tiba-tiba tukang parkir tersebut bertanya sambil tergopoh ”dari kbih ya mas?”
suara seorang wanita di balik baju tukang parkir berbalut jas hujan dari
plastik ala kadarnya mengagetkan saya. Kontan saja saya malu pada diri sendiri,
sudah salah mengira ibu tersebut laki-laki, dan su’udhon tentang tujuan beliau
menghampiri.
Setelah
benar-benar dekat, saya menjawab pertanyaan beliau. Sesaat saya berpikir bahwa
tukang parkir ini di utus bu maryam untuk menjemput saya. Namun dugaan saya
salah lagi, dari balik plastik krupuk yang disulap jadi jas hujan, beliau
mengeluarkan bungkusan kresek hitam. ”ini mas, potokopi yang diminta” sambil
menyodorkan bungkusan itu pada saya. Segera saya buka dan memeriksa sekilas
isinya. Benar saja, didalamnya terdapat beberapa lembar kertas sepertinya
sesuai dengan yang kami butuhkan dari bu
maryam.
”terima kasih bu,
kantornya bu maryam di mana?” rasa penasaran yang belum hilang membuat saya
tidak segera bergegas pergi walau berkas sudah di tangan. ”ya disini kantor
saya” sambil tersenyum si ibu menjawab pertanyaan saya. Sepertinya beliau
memahami kebingungan saya dengan tawa beliau yang tidak saya mengerti maknanya
tersebut. Sehingga beliau melanjutkan ”La mas ngomong kantor, saya kan jadi
malu. Tukang parkir ya disini ini kantornya, di pelataran ruko. Maaf lo mas
saya tidak bisa mempersilahkan duduk, la ndak ada tempat duduk. Saya sudah
nyiapkan potokopi itu dari pagi tadi. Terima kasih ya sudah mau ambil, saya
ndak bisa antar soalnya ndak ada sepeda motor” panjang lebar si ibu
menjelaskan. Siang itu gerimis tidak berpetir. Tapi saya terasa disambar petir
yang dahsyat luar biasa.
Subhanallah, dari
sekian kesalahan terka beberapa menit lalu, yang ini adalah kesalahan terparah.
Saya mengira tukang parkir itu pesuruh bu maryam. Allahuakbar, ternyata tukang
parkir itulah bu maryam. Yang telah mendaftar haji dan sedang dalam proses
pengurusan ke depag. Melihat saya diam dalam keterkejutan, bu maryam segera
menyadari dan melanjutkan ceritanya.
Sudah
bertahun-tahun beliau menjadi tukang parkir ditempat tersebut. Dulu pekerjaan
ini dijalankan bersama suami. Namun bu maryam harus ikhlas melepas kepergian
suaminya beberapa waktu lalu. Dari penuturan beliau, menjadi tukang parkir
prinsipnya harus ikhlas. Berapapun orang memberi ndak ditolak walau kadang di
bawah standar. ”agar rizki barokah” begitu sepenggal kata beliau. Belum lagi
harus berbagi hasil dengan preman setempat. Jadi yang di bawa pulang secukupnya
sisa hari itu.
Dulu ketika
suaminya masih hidup, setiap kali melihat iring-iringan pengantar jamaah haji
melintas di jalan, terbesit mimpi untuk pergi haji. Mimpi ini menjadi motivasi
bu maryam dan suaminya untuk tetap semangat menabung sebisanya. Namun apa daya,
Allah berkehendak lain. Mimpi yang dibangun bersama suami harus diwujudkan
sendiri. Wanita separoh abad itu melanjutkan niatnya pergi haji. ”saya itu
kangen pingin ziarah makam nabi, pingin sholat di mekkah seperti di tivi-tivi
itu mas” demikian ungkapan kerinduan beliau yang dibarengi dengan mata
berkaca-kaca. Tampak ketulusan yang sulit untuk dikatakan mengada-ada.
Masih dalam
ketidak pastian perasaan, antara kaget, malu, dan takjub, saya bergegas pamit
sesaat setelah beliau mengakhiri cerita
dengan kalimat ”ya, semoga Allah ridho dengan niat saya mas, sehingga saya bisa
nyicil talangan haji ini dengan lancar. Saya pasrah sama Allah saja mas”.
Setelah mengamini, saya pun meninggalkan beliau yang masih berdiri mengantar
kepergian saya.
Tak ayal, saya
hanya bisa bertasbih mengagumi betapa indah hidayah yang diberikan pada bu
maryam oleh Allh SWT. Dan memohon ampun atas
kekurangan diri yang merasa tidak yakin bahwa Allah adalah Al wakiil. Pada
Allah lah kita pasrahkan segala urusan kita. Bahkan jika berhaji pun terdengar
mustahil bagi kita, maka tidak bagi Allah. Subahnallah AllahuAkbar
Berawal dari
sebuah kerinduan untuk pergi ke baitullah dan berziarah ke makam rosululloh lah
yang mendorong bu maryam dan alm suaminya untuk bersemangat menabung daftar
haji. Kita yang di beri kelapangan rizki lebih dibanding beliau apa juga bisa
merasakan kerinduan semenggebu itu.
Saya jadi
teringat sabda Rosul yang sering disampaikan setiap Manasik Haji NH, ”Barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku
wafat, maka sama seperti ziarah ketika aku hidup” (HR. Ibnu Asakir). Subhanallah,
tidakkah hadis ini mampu menggerakkan kita untuk bersemangat ziarah ke makam
rasul. Tidakkah kita berkeinginan meraih syafaat rasul dengan menjumpai beliau
dalam ziarah sebagaimana hadis berikut ”Barangsiapa
yang berziarah ke makamku, maka wajib baginya mendapat syafaatku” (HR ad
Daruquthni).
Dalam perjalanan
pulang, saya terus merenung, betapa jauhnya diri saya dibanding ibu mulia itu. Sementara
langit masih gerimis. Hati saya masih belum berhenti juga bergerimis.
Assalamu'alaikum wrw wb
BalasHapusIbu Denik,
Mohon info. Kejadian ini terjadi pada tahun berapa?
Matur nuwun.