Rabu, 15 Mei 2013

Iqro' Januari 2013 : Tukang Parkir Naik Haji



Ketika itu Surabaya tengah berselimut mendung. Di ujung kejauhan tampak langit gelap menandakan sedang atau akan hujan. Saya bergegas menghabiskan segelas es tebu di genggaman. Mendung tak menyurutkan nikmatnya mengobati haus dengan dinginnya es. Tiba-tiba hape berdering seiring kosongnya gelas.
“mas tolong ambil berkas di bu maryam. ” demikian perintah singkat dari rekan kantor di ujung telepon. Setelah telepon berakhir, saya baru menyadari bahwa alamat tujuan adalah sisi surabaya yang sedang diselimuti mendung pekat.
Subhanallah, seingat saya tidak tersimpan jas hujan di jok sepeda lantaran terpakai kemarin dan lupa mengembalikan pada tempatnya. Berbagai alasan sedang berputar di otak untuk sekedar mengurungkan pengambilan berkas di bu maryam.
”ndak bisa mas, harus hari ini. Untuk melengkapi pengurusan ke depag, tolong ya mas” mendengar ini saya akhirnya menyerah. Niat membatalkan pengambilan berkas saya buang jauh. Karena pasti tingkat kebutuhan sudah sangat serius. Jika saya menundanya,  maka pendaftaran haji bu maryam juga akan tertunda. Dan prinsip yang diajarkan kepada kami, pelayan calon tamu Allah adalah melayani dengan sebaik mungkin.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya saya sampai di sekitar wilayah tujuan. Benar saja, gerimis telah membasahi tanpa menyisakan sejengkal pun tanah dalam keadan kering. Tujuan saya adalah sebuah ruko elit di bilangan kota surabaya. ”pasti bu maryam ini adalah pemilik atau manajer di perusahaan yang berkantor disini” pikir saya setiba di lokasi.
Yang membuat agak aneh, adalah saya tidak diberikan blok dan nomer kantor yang harus saya ketuk pintunya. Alhasil, saya harus menepi disudut ruko sambil berteduh. ”mas nya sekarang posisi di mana? .... o ya ya tunggu di situ, saya akan segera kesana”  begini kira-kira bu maryam merespon pertanyaan saya melalui telpon tentang blok dan nomer  kantor. Bukannya memberi alamt lengkap malah meminta saya menunggu di tempat. apa mungkin beliau tau saya ndak bawa jas hujan lalu jemput pakai payung. Ah, ndak mungkin lah.
Sambil menahan dingin karena jaket sudah berangsur lembab terkena gerimis kecil. Dari kejauhan tampak seseorang mendekat. Dari cara berpakaiannya sudah jelas dia adalah tukang parkir. Jangan-jangan pak parkir ini mau mengingatkan bahwa saya parkir ditempat yang salah. Hampir bersiap bertanya manakalah orang itu mendekat, tiba-tiba tukang parkir tersebut bertanya sambil tergopoh ”dari kbih ya mas?” suara seorang wanita di balik baju tukang parkir berbalut jas hujan dari plastik ala kadarnya mengagetkan saya. Kontan saja saya malu pada diri sendiri, sudah salah mengira ibu tersebut laki-laki, dan su’udhon tentang tujuan beliau menghampiri.
Setelah benar-benar dekat, saya menjawab pertanyaan beliau. Sesaat saya berpikir bahwa tukang parkir ini di utus bu maryam untuk menjemput saya. Namun dugaan saya salah lagi, dari balik plastik krupuk yang disulap jadi jas hujan, beliau mengeluarkan bungkusan kresek hitam. ”ini mas, potokopi yang diminta” sambil menyodorkan bungkusan itu pada saya. Segera saya buka dan memeriksa sekilas isinya. Benar saja, didalamnya terdapat beberapa lembar kertas sepertinya sesuai dengan yang kami butuhkan dari  bu maryam.
”terima kasih bu, kantornya bu maryam di mana?” rasa penasaran yang belum hilang membuat saya tidak segera bergegas pergi walau berkas sudah di tangan. ”ya disini kantor saya” sambil tersenyum si ibu menjawab pertanyaan saya. Sepertinya beliau memahami kebingungan saya dengan tawa beliau yang tidak saya mengerti maknanya tersebut. Sehingga beliau melanjutkan ”La mas ngomong kantor, saya kan jadi malu. Tukang parkir ya disini ini kantornya, di pelataran ruko. Maaf lo mas saya tidak bisa mempersilahkan duduk, la ndak ada tempat duduk. Saya sudah nyiapkan potokopi itu dari pagi tadi. Terima kasih ya sudah mau ambil, saya ndak bisa antar soalnya ndak ada sepeda motor” panjang lebar si ibu menjelaskan. Siang itu gerimis tidak berpetir. Tapi saya terasa disambar petir yang dahsyat luar biasa.
Subhanallah, dari sekian kesalahan terka beberapa menit lalu, yang ini adalah kesalahan terparah. Saya mengira tukang parkir itu pesuruh bu maryam. Allahuakbar, ternyata tukang parkir itulah bu maryam. Yang telah mendaftar haji dan sedang dalam proses pengurusan ke depag. Melihat saya diam dalam keterkejutan, bu maryam segera menyadari dan melanjutkan ceritanya.
Sudah bertahun-tahun beliau menjadi tukang parkir ditempat tersebut. Dulu pekerjaan ini dijalankan bersama suami. Namun bu maryam harus ikhlas melepas kepergian suaminya beberapa waktu lalu. Dari penuturan beliau, menjadi tukang parkir prinsipnya harus ikhlas. Berapapun orang memberi ndak ditolak walau kadang di bawah standar. ”agar rizki barokah” begitu sepenggal kata beliau. Belum lagi harus berbagi hasil dengan preman setempat. Jadi yang di bawa pulang secukupnya sisa hari itu.
Dulu ketika suaminya masih hidup, setiap kali melihat iring-iringan pengantar jamaah haji melintas di jalan, terbesit mimpi untuk pergi haji. Mimpi ini menjadi motivasi bu maryam dan suaminya untuk tetap semangat menabung sebisanya. Namun apa daya, Allah berkehendak lain. Mimpi yang dibangun bersama suami harus diwujudkan sendiri. Wanita separoh abad itu melanjutkan niatnya pergi haji. ”saya itu kangen pingin ziarah makam nabi, pingin sholat di mekkah seperti di tivi-tivi itu mas” demikian ungkapan kerinduan beliau yang dibarengi dengan mata berkaca-kaca. Tampak ketulusan yang sulit untuk dikatakan mengada-ada.
Masih dalam ketidak pastian perasaan, antara kaget, malu, dan takjub, saya bergegas pamit sesaat setelah  beliau mengakhiri cerita dengan kalimat ”ya, semoga Allah ridho dengan niat saya mas, sehingga saya bisa nyicil talangan haji ini dengan lancar. Saya pasrah sama Allah saja mas”. Setelah mengamini, saya pun meninggalkan beliau yang masih berdiri mengantar kepergian saya.
Tak ayal, saya hanya bisa bertasbih mengagumi betapa indah hidayah yang diberikan pada bu maryam oleh Allh SWT. Dan memohon ampun  atas kekurangan diri yang merasa tidak yakin bahwa Allah adalah Al wakiil. Pada Allah lah kita pasrahkan segala urusan kita. Bahkan jika berhaji pun terdengar mustahil bagi kita, maka tidak bagi Allah. Subahnallah AllahuAkbar
Berawal dari sebuah kerinduan untuk pergi ke baitullah dan berziarah ke makam rosululloh lah yang mendorong bu maryam dan alm suaminya untuk bersemangat menabung daftar haji. Kita yang di beri kelapangan rizki lebih dibanding beliau apa juga bisa merasakan kerinduan semenggebu itu.
Saya jadi teringat sabda Rosul yang sering disampaikan setiap Manasik Haji NH, ”Barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka sama seperti ziarah ketika aku hidup” (HR. Ibnu Asakir). Subhanallah, tidakkah hadis ini mampu menggerakkan kita untuk bersemangat ziarah ke makam rasul. Tidakkah kita berkeinginan meraih syafaat rasul dengan menjumpai beliau dalam ziarah sebagaimana hadis berikut ”Barangsiapa yang berziarah ke makamku, maka wajib baginya mendapat syafaatku” (HR ad Daruquthni).
Dalam perjalanan pulang, saya terus merenung, betapa jauhnya diri saya dibanding ibu mulia itu. Sementara langit masih gerimis. Hati saya masih belum berhenti juga bergerimis.

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wrw wb
    Ibu Denik,
    Mohon info. Kejadian ini terjadi pada tahun berapa?
    Matur nuwun.

    BalasHapus